Jember (beritajatim.com) – Sebagian petani tembakau di Kabupaten Jember, Jawa Timur, disarankan beralih komoditas untuk memasok bahan Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain menguntungkan petani, juga menjaga stabilitas inflasi.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD Jember Widarto, Selasa (10/3/2026). “MBG ke depan akan jadi penyumbang inflasi dan bisa menjadi masalah juga kalau tidak diantisipasi,” katanya.
Dengan beroperasinya kurang lebih 140 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Jember saat ini, permintaan buah, sayur, dan beras meningkat, dan memicu inflasi tertinggi di Jatim. Badan Pusat Statistik mencatat pada Februari 2026, inflasi month-to-month atau bulanan di Jember mencapai 1,14 persen.
Dari lima komoditas penyumbang inflasi, empat diantaranya merupakan bahan pangan, yakni cabai rawit 0,33 persen, daging ayam ras 0,22 persen, beras 0,11 persen, dan jagung manis 0,07 persen.
“Sekarang baru 140-an dapur saja yang beroperasi. Kita bisa bayangkan kalau kemudian 270 Dapur SPPG beroperasi semua. Pasti demand terhadap sayur, buah-buahan, beras, dan protein akan semakin tinggi,” kata Widarto.
Sementara itu di lain pihak, tekanan regulasi terhadap produk hasil tembakau semakin meningkat dan berdampak terhadap petani, terutama yang membudidayakan voor-oogst kasturi dan rajang untuk dijual kepada pabrik-pabrik rokok lokal.
Maka, lanjut Widarto, tidak ada salahnya jika pemerintah mendorong petani tembakau di Jember untuk membudidayakan komoditas pertanian yang dibutuhkan MBG, seperti buah-buahan, sayur, kacang-kacangan, atau jagung manis.
Dengan demikian petani dan pemerintah sama-sama diuntungkan. “Ada tantangan soal tembakau, tapi ada peluang baru juga terkait pemenuhan demand SPPG di Jember. Kalau memang (tembakau) berpotensi tidak menguntungkan untuk petani, ya jangan dipaksakan. Tidak ada masalah bagi petani yang awalnya menanam tembakau kasturi lalu pindah menanam sayuran atau buah-buahan,” kata Widarto.
Abdurrahman, petani tembakau voor-oogst asal Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, tak terlampau berminat beralih komoditas.
“Toh budidaya komoditas sudah diatur musim. Musim tanam padi ada pada musim hujan pertama dan musim kemarau pertama. Selanjutnya untuk sayur-sayuran sudah ada musimnya juga. Jadi tidak mungkin petani tembakau beralih tanaman untuk memenuhi kebutuhan MBG,” katanya.
Abdurrahman juga tak terlampau peduli dengan semakin ketatnya aturan produk hasil tembakau. “Yang penting petani tanam,” katanya.
Petani tembakau justru lebih mengkhawatirkan cuaca yang tak bersahabat. “Curah hujan yang tidak menentu atau kemarau basah sering merusak kualitas daun tembakau dan menyebabkan gagal panen,” kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember, Rudi Indrawan.
Widarto memahami bahwa tembakau merupakan identitas Jember sejak berdiri sebagai sebuah kota. Ini ditunjukkan dengan penggunaan daun tembakau sebagai logo daerah dan masih banyaknya populasi petani tembakau di Jember.
Dinas TPHP Jember mencatat pada 2024, 17.509 keluarga mengerjakan tembakau voor-oogst kasturi, 2.138 keluarga mengerjakan na-oogst tanam awal, 531 keluarga membudidayakan tembakau na-oogst tradisional, dan 2.959 keluarga menggarap tembakau voor oogst rajang.
“Tapi jangan sampai petani dikorbankan hanya untuk branding. Toh tembakau sebagai identitas tetap ada dengan tetap adanya tembakau cerutu. Kalau na-oogst kan pasarnya ekspor,” kata Widarto. [wir]






