Jember (beritajatim.com) – Puluhan orang warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada kesalahan standar prosedur operasional dalam penyajian menu.
Sementara ini jumlah warga yang dirawat jalan dan dirawat inap di puskesmas dan klinik di Kecamatan Bangsalsari sudah mencapai 29 orang. Mayoritas anak-anak berusia bawah lima tahun dan berusia pendidikan sekolah dasar. Tiga orang di antaranya adalah ibu anak-anak tersebut yang ikut mengonsumsi.
Lima belas orang dirawat di Puskesmas Sukorejo Bangsalsari, dua orang dirawat inap dan delapan orang dirawat jakab di Puskesmas Paleran, satu orang dirawat di Rumah Sakit Daerah Balung, satu orang dirawat di Klinik Graha Medika, dan satu orang lagi dirawat jalan di klinik.
“Kami masih menunggu laporan hasil pemeriksaan laboratorium. Tapi untuk sementara kami rekomendasikan kepada Badan Gizi Nasional agar SPPG (Bangsalsari Karangsono) ini dihentikan dulu sampai evaluasi selesai,” kata Akhmad Helmi Luqman, juru bicara Satuan Tugas MBG Pemkab Jember, Kamis (16/7/2026).
Para korban mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG berupa nasi, telur puyuh bumbu rendang, cah pakcoy, jagung pipil, kering tempe, dan anggur, Selasa (14/7/2026). Malam harinya, gejala keracunan mulai muncul. Puluhan orang mengalami mual, pusing, diare, dan muntah.
Rabu keesokan harinya mendadak jumlah kunjungan di puskesmas dan sejumlah klinik meningkat karena gejala keracunan ini. Satgas MBG Kecamatan Bangsalsari segera turun ke lapangan untuk menyelidiki kejadian ini.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari lapangan, Helmi mengatakan, ada standar penyajian MBG yang dilanggar. Telur puyuh yang disajikan ternyata tidak direbus di dapur SPPG, melainkan di luar dapur unruk kemudian dikemas. “Makanan siap saji seharusnya dimasak di SPPG, tapi dipihakketigakan,” kata Helmi.
Selain itu, menurut Helmi, seharusnya sajian MBG harus dimakan di lokasi sekolah. Namun sebagian penerima manfaat membawanya pulang. “Kemudian setelah kita masuk, ada beberapa evaluasi soal kondisi dapur yang kurang memadai,” katanya.
Dapur MBG di SPPG Karangsono dinilai terlalu sempit. Selain itu, fasilitas seperti exhaust fan dinilai masih kurang memadai.
Satgas MBG juga menemukan fakta bahwa SPPG tidak menyediakan sampel untuk sejumlah batch makanan yang disajikan. Menurut Helmi, ada makanan batch pertama saja yang memiliki sampel. “Ada beberapa hal lain yang dievaluasi teman-teman di lapangan, yang nantinya menjadi kajian untuk dijadikan rekomendasi,” kata Helmi. [wir/but]






