Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 200 abang becak di Kota Blitar kini tengah dirundung dilema besar. Di satu sisi, mereka baru saja menerima bantuan kendaraan masa depan berupa becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto.
Namun di sisi lain, teknologi ramah lingkungan ini justru memicu kecemasan baru yakni ketakutan akan listrik rumah yang “njeglek” hingga bayang-bayang tagihan bulanan yang membengkak.
Bantuan ini awalnya disambut suka cita sebagai solusi modern untuk mengurangi beban fisik para penarik becak.
Namun, kegembiraan itu berubah menjadi kerutan di dahi saat para penerima mulai memikirkan teknis pengisian daya (charging) di kediaman masing-masing.
Mayoritas tukang becak di Kota Blitar merupakan pelanggan listrik subsidi dengan daya R1/450 VA. Secara teknis, pengisian daya baterai becak listrik membutuhkan konsumsi daya yang stabil dan cukup besar dalam durasi yang lama.
“Nah itu yang bingung, kuat tidaknya untuk pengisian listriknya,” ucap Jari, abang becak yang bekerja di kawasan Makam Bung Karno Blitar pada Sabtu (7/2/2026).
Selain kendala teknis daya yang tidak kuat, aspek ekonomi menjadi hantu tersendiri. Para abang becak khawatir penggunaan listrik harian untuk operasional becak akan membuat tagihan bulanan atau pembelian token listrik mereka melonjak tajam.
“Masih untung tapi pasti tipis, karena beban listriknya juga akan bertambah,” imbuhnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar sendiri memang belum memberikan fasilitas tempat pengecasan becak listrik. Sehingga beban listrik untuk kendaraan becak listrik ini akan ditanggung masing-masing oleh para abang becak.
Para abang becak ini hanya diberikan pelatihan untuk perawatan dan pengecasan becak listriknya. Namun Pemkot Blitar belum memberikan jaminan atau solusi atas beban listrik untuk kendaraan ramah lingkungan ini.
“Tadi sepuh-sepuh semua yang menerima terus tadi saya bilang nanti kalau tidak bisa ngecas suruh mengecaskan putranya ya,” ucap Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin. (owi/ted)






