Surabaya (beritajatim.com) – Rentetan kasus bunuh diri pelajar di berbagai daerah menguak fakta kelam. Tekanan psikologis akibat paparan digital dinilai menjadi pemicu utama krisis kesehatan mental generasi muda.
Kasus tragis ini merata di berbagai wilayah. Mulai dari mahasiswa di Nusa Tenggara Timur, siswa sekolah dasar di Demak, hingga remaja di Bandung yang mengakhiri hidupnya.
Fenomena ini sejalan dengan lonjakan pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur, Surabaya. Sejak Januari hingga Juli 2024, sekitar 3.000 anak dan remaja menjalani terapi kejiwaan.
Direktur RSJ Menur, Vitria Dewi, menyebut mayoritas pasien dirawat akibat ketergantungan gawai dan permainan daring. Kondisi ini merusak perilaku dan perkembangan mental mereka.
Penanganan kasus ini tidak bisa sebatas medis klinis. Vitria menegaskan, peran keluarga sangat krusial sebagai benteng pertama ketahanan mental anak menghadapi paparan teknologi.
Ketergantungan digital merusak regulasi emosi dan pola pikir remaja. Mereka kesulitan mengelola stres saat realitas kehidupan terbukti tak seindah citra di media sosial.
Akademisi Universitas Airlangga sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur (Jatim), Suko Widodo, menyoroti ironi era digital ini.
“Anak dan remaja terhubung secara digital 24 jam, tetapi sering merasa tidak didengar secara emosional,” ujar Suko dikutip Minggu (22/2/2026).
Menyikapi krisis ini, ISKI Jatim mendesak penguatan literasi digital dan emosional. Langkah ini bertujuan agar anak memahami dampak konten terhadap kesehatan mentalnya.
Suko juga menekankan pentingnya deteksi dini perubahan perilaku. Peran aktif orang tua dan pendidik sangat diperlukan untuk mencegah gangguan mental sejak awal.
Selain itu, akses layanan kesehatan mental bagi remaja harus dipermudah. Terutama bagi mereka yang menunjukkan tanda stres atau kecanduan gawai yang akut.
ISKI turut mengusulkan kampanye nasional masif mengenai bahaya scrolling tanpa henti. Edukasi ini harus mencakup dampak buruk game online dan tekanan sosial.
”Ini adalah realitas yang membutuhkan aksi bersama,” tegas Suko. Baginya, penanganan harus dilakukan segera sebelum tragedi bunuh diri kembali terulang. [ipl/suf]






