Tuban (beritajatim.com) – Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Ratna Ernawati, Sp.OG, menggelar kegiatan ‘Srawung Sasmita’ pada 14-15 Februari 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk merawat kesehatan mental, khususnya bagi wanita, dengan melibatkan para profesional wellness seperti Putri Amanda Sari, spesialis wellness dari Malang. dr. Ratna yang dikenal luas di Kabupaten Tuban, ingin menciptakan ruang aman bagi siapa saja yang merasakan beban mental dan emosional.
“Srawung Sasmita adalah ruang untuk merawat yang sempat terluka, menerima yang telah sirna, dan memperbaiki arah langkah yang lebih bermakna,” kata dr. Ratna dalam sambutannya pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, dengan momen spesial pada Hari Valentine yang mengajak peserta untuk datang bersama orang tersayang. Pada tanggal 15 Februari, fokus acara beralih ke upaya menata diri dan mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan.
dr. Ratna menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memberikan ruang bagi peserta untuk mengenali diri mereka, mencintai diri sendiri, dan menanggapi masalah hidup dengan perspektif yang lebih positif.
Menurut dr. Ratna, kesehatan mental menjadi masalah yang sangat mendesak, terutama mengingat tingginya tingkat gangguan mental di Indonesia. Di Kabupaten Tuban, gangguan mental diperkirakan mencapai 40-50 persen. Oleh karena itu, kegiatan Srawung Sasmita ini diharapkan dapat membantu peserta memahami bahwa terkadang kita merasa baik-baik saja, padahal ada perasaan yang terpendam yang perlu diperhatikan dan diatasi.
“Ketika berkumpul di ruang yang aman, kita merasakan getaran kasih sayang yang menyebar, memberikan efek positif, dan membuat kita merasa seperti diobati atau dipulihkan,” jelasnya.
Selain wellness treatment, peserta juga mengikuti aktivitas kreatif seperti merangkai bunga dan berkain. Namun, dr. Ratna menegaskan bahwa tujuan utama dari Srawung Sasmita adalah untuk memberikan kesempatan bagi peserta untuk mencintai diri mereka sendiri, menyadari bahwa masalah tidak harus dihindari, tetapi bisa dihadapi secara bertahap.
“Jika kita sudah menyayangi diri kita sendiri, kita akan mampu menghadapi masalah dengan lebih tenang. Bahkan, ibu-ibu hamil yang saya temui di klinik kadang merasa tidak disayang, sehingga menolak makan, tensinya naik, dan berdampak pada persalinan,” tambahnya.
Gangguan mental, menurutnya, tidak hanya dipengaruhi oleh masalah ekonomi, tetapi juga oleh kurangnya dukungan sosial dan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan. Di Indonesia, mengungkapkan ketidakbaikannya diri masih dianggap tabu, dan itulah alasan di balik diadakannya Srawung Sasmita, untuk menyadarkan diri kita agar lebih peduli dengan kesehatan mental.
“Tujuan Srawung Sasmita adalah untuk membantu kita sadar bahwa kita perlu peduli dengan diri sendiri. Kalau kita merasa baik-baik saja, tidak ada salahnya untuk mengungkapkan itu,” tutup dr. Ratna. [dya/suf]






