Surabaya (beritajatim.com) — Seluruh wilayah Jawa Timur kini telah memasuki musim hujan, bahkan beberapa daerah diperkirakan sudah berada pada fase puncak musim hujan.
Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya cuaca ekstrem yang dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memperingatkan bahwa hingga akhir Januari 2026, potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur cenderung meningkat dan perlu diwaspadai bersama.
BMKG menjelaskan, meningkatnya intensitas cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer.
Di antaranya adalah aktifnya Monsun Asia, adanya pola pertemuan angin atau konvergensi, serta gangguan atmosfer berupa gelombang Equatorial Rossby.
Selain itu, BMKG juga memprakirakan adanya gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang akan melintasi wilayah Jawa Timur dalam beberapa hari ke depan.
“Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia, pola konvergensi angin, gangguan atmosfer Equatorial Rossby, serta adanya MJO yang diprakirakan melintasi Jawa Timur,” tulis BMKG Juanda melalui akun resminya.
Tak hanya faktor atmosfer global, kondisi lokal juga turut memperparah situasi. Suhu muka laut di perairan Selat Madura masih terpantau cukup hangat dan signifikan.
Ditambah dengan kondisi atmosfer lokal yang labil, hal ini mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif. Awan jenis ini berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, angin kencang, bahkan fenomena ekstrem lainnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi pada periode 21 hingga 30 Januari 2026.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hujan es, hingga gangguan jarak pandang akibat hujan lebat.
Adapun wilayah Jawa Timur yang masuk dalam daftar potensi terdampak cuaca ekstrem cukup luas, mencakup hampir seluruh kabupaten dan kota.
Di antaranya Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Lumajang, Malang, Pasuruan, Probolinggo, hingga Situbondo di wilayah tapal kuda. Daerah lain seperti Kabupaten dan Kota Kediri, Blitar, Mojokerto, Madiun, serta Kota Batu juga perlu meningkatkan kewaspadaan.
Wilayah Madura seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep turut masuk dalam daftar daerah berisiko.
Sementara itu, kawasan barat dan selatan Jawa Timur seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Nganjuk, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya juga berpotensi terdampak.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, serta instansi terkait agar selalu memantau informasi cuaca terbaru dan waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara mendadak. Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan topografi curam, pegunungan, atau dekat tebing diharapkan lebih siaga karena berisiko tinggi mengalami tanah longsor, banjir bandang, jalan licin, pohon tumbang, serta berkurangnya jarak pandang.
Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan peringatan dini cuaca, serta segera mengambil langkah antisipatif demi keselamatan bersama. (fyi/ted)






