Sidoarjo (beritajatim.com) – Suasana duka menyelimuti Perumahan Pondok Sedati Asri, Blok GC/14, Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Selasa (16/12/2025).
Sejak siang hari, keluarga besar almarhum Kusnadi bin Kutan tampak sibuk mempersiapkan prosesi penyambutan jenazah yang dipulangkan dari RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Di tengah kesunyian yang sarat emosi, kursi-kursi ditata rapi di halaman rumah duka. Beberapa papan ucapan belasungkawa berdiri berjejer, ditulis dan dipasang dengan gotong royong oleh para tetangga.
Kehadiran mereka menjadi penguat di saat keluarga kehilangan sosok yang selama ini dikenal dekat dan bersahaja.
Sanak saudara, kolega, serta warga sekitar berdatangan silih berganti. Ucapan duka cita terucap lirih, menyertai doa bagi almarhum yang semasa hidupnya dikenal sebagai tokoh politik yang merakyat.
Salah satu anggota keluarga menyampaikan bahwa jenazah Kusnadi akan dimakamkan di pemakaman setempat.
“Almarhum akan disemayamkan di Makam Pondok Sedati Asri Desa Pepe Sedati setelah salat isya’,” ucap pihak keluarga.
Perjuangan Melawan Penyakit
Kusnadi menghembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Ia diketahui menderita kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang disertai penyakit autoimun.
Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani kemoterapi secara rutin dalam beberapa waktu terakhir.
Meski kesehatannya terus menurun, semangat almarhum untuk pulih dan tetap berkomunikasi dengan kerabat tidak pernah surut. Kepergiannya pun meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia politik Jawa Timur.
Jejak Panjang Karier Politik
Kusnadi merupakan kader senior PDI Perjuangan. Pria kelahiran 7 Desember 1958 ini pernah menjabat sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur serta dipercaya memimpin DPRD Provinsi Jawa Timur periode 2019–2024.
Riwayat pendidikannya terbilang kuat. Ia meraih gelar Sarjana (S-1) dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya pada 1986, kemudian melanjutkan studi Magister (S-2) di Universitas Gadjah Mada dan lulus pada 1995.
Di mata masyarakat, Kusnadi dikenal sebagai politikus yang mudah ditemui dan terbuka terhadap aspirasi warga.
Namun, perjalanan karier politiknya mengalami fase berat ketika namanya terseret dalam perkara dana hibah, menyusul kasus yang lebih dulu menjerat Wakil Ketua DPRD Jatim saat itu, Sahat Tua Simanjuntak.
Kini, perjalanan hidup dan pengabdian Kusnadi telah sampai pada garis akhir. Di lingkungan tempat ia tinggal, doa-doa terus mengalir, mengiringi kepergian seorang tokoh yang pernah mewarnai panggung politik Jawa Timur dengan kesederhanaannya. (ted)






