Blitar (beritajatim.com) – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 9.690 ribu warga Kota Blitar masih terlilit kemiskinan di tahun 2025 ini. Itu artinya 6,60 persen dari total masyarakat Bumi Bung Karno masih hidup dibawah bayang-bayang kemiskinan.
Mereka yang masuk kategori miskin ini adalah yang memiliki pendapatan perkapita dibawah Rp.625 ribu. Dengan kondisi tersebut bisa disimpulkan bahwa di tahun 2025 ini, ada sekitar 9,69 ribu warga Kota Blitar yang pendapatan perkapitanya di bawah Rp.625 ribu.
“Bahwa garis kemiskinan Kota Blitar untuk Tahun 2025 naik menjadi Rp. 625.337, – per capita per bulan (ini bisa dimaknai per orang per bulan),” ucap Kepala BPS Kota Blitar, Hanung Pramusito, saat dikonfirmasi pada Selasa (16/9/2025).
Sejatinya kemiskinan di Kota Blitar mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2024 kemarin. Jumlah penurunan angka kemiskinan ini mencapai 0,15 persen. Dimana pada tahun 2024 kemarin angka kemiskinan di Bumi Bung Karno mencapai 6,75 persen, dan kini di tahun 2025 ini angka kemiskinannya tinggal 6,60 persen.
Meski ada penurunan, namun Kota Blitar tetap berada di urutan paling bawah soal tingkat kemiskinan di Jawa Timur. Diketahui Kota Blitar saat ini berada di posisi 9 atau paling buncit soal urusan kemiskinan dengan angka 6,60 persen.
Tingkat kemiskinan di Kota Blitar ini lebih buruk dari Kota Kediri yang berada di urutan ke 8 dengan persentase mencapai 6,51. Bahkan Kota Blitar masih tertinggal jauh dari daerah tetangga yakni Kota Malang yang menempati posisi 2 terbaik dengan angka kemiskinan 3,91 persen.
“Miskin yang dihitung adalah miskin secara makro dari penghitungan garis kemiskinan, (bukan spesifik meskin ekstrim),” bebernya.
Meski berada di posisi buncit, namun penurunan kemiskinan yang terjadi Kota Blitar ini memberikan dampak positif pada angka pertumbuhan ekonomi daerah. Diketahui bahwa angka pertumbuhan ekonomi Kota Blitar pada triwulan 2025 ini mencapai 4,02 persen.
Diharapkan angka pertumbuhan ekonomi ini bisa berjalan seiring dengan penurunan angka kemiskinan di Bumi Bung Karno. Sehingga kemakmuran warga Blitar bisa diwujudkan.
“pertumbuhan ekonomi di angka 4,96 (year on Year) sedangkan untuk pertumbuhan (Q to Q) atau triwulan meningkat 4,02,” bebernya.
Sementara itu, Walikota Blitar, Syauqul Muhibbin menyambut baik laporan dari BPS Kota Blitar. Menurutnya, penurunan angka kemiskinan tidak terlepas dari sejumlah program stimulan pemerintah daerah. Seperti bantuan sembako, penyediaan lapangan kerja, hingga pelatihan bagi pencari kerja.
“Saya patut berbangga hati, karena tahun ini angka kemiskinan sedikitnya dapat turun walaupun hanya 0,15 persen dibandingkan tahun 2024,” ungkap Ibbin.
Penurunan angka kemiskinan ini sejatinya menjadi modal awal yang cukup baik untuk kepemimpinan Syauqul Muhibbin. Dimana pria yang akrab disapa Mas Ibin tersebut baru menahkodai Kota Blitar pada tahun 2025 ini.
“Pemkot Blitar akan terus berkomitmen melaksanakan berbagai program pengentasan kemiskinan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. [owi/aje]






