Ponorogo (beritajatim.com) – Tanaman padi di Kabupaten Ponorogo tengah menghadapi ancaman serius. Serangan hama wereng yang meluas membuat petani di Bumi Reog kian was-was. Dalam waktu singkat, puluhan petak sawah di wilayah Kelurahan Bangunsari, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, mengalami kerusakan parah akibat hama kecil berwarna coklat tersebut. Sebagian sawah masih bisa diselamatkan dengan perawatan ekstra, tetapi tidak sedikit yang berujung gagal panen total.
“Ini buat petani merupakan kejadian luar biasa,” kata Ahmad Subekhi, salah satu petani di Kelurahan Bangunsari, Kamis (10/7/2025).
Ahmad Subekhi mengungkapkan gerakan wereng yang sangat cepat membuat petani kewalahan. Awalnya, tanaman padi di satu hamparan sawah terlihat sehat. Namun begitu ada satu petak sawah yang diserang, dalam waktu singkat serangan itu menjalar ke lahan lainnya.
“Awalnya padi kami baik-baik saja, tapi hanya dalam dua malam dalam satu hamparan sawah sudah terkena,” ungkapnya.
Menurut Ahmad, serangan wereng kali ini berbeda dari biasanya. Wereng punggung putih yang awalnya menempel di pangkal batang, setelah bertelur dan menetas berubah menjadi coklat. Dari sana, wereng terus mengisap nutrisi tanaman hingga padi yang mulai bunting atau berumur sekitar 50 hari langsung layu, kering, dan mati.
“Wereng punggung putih awalnya, tapi setelah bertelur dan menetas warnanya berubah jadi coklat. Dari batang bawah isap nutrisi pohon, bertelur lagi, dan siklusnya terus jalan. Akhirnya semuanya rusak,” ujar Subekhi lirih.
Untuk menyelamatkan tanaman, sebagian petani terpaksa membeli insektisida dan melakukan penyemprotan sendiri. Namun langkah ini menuntut biaya yang tidak sedikit, sementara hasil panen belum tentu dapat menutupi ongkos perawatan.
“Kalau dirawat terus, habis di obat dan tenaga. Belum tentu panennya bisa menutup biaya. Jadi ya banyak yang pasrah, dibiarkan dan gagal panen,” pungkasnya. [end/beq]






