Ponorogo (beritajatim.com) – Di tengah maraknya industri batik printing dengan harga lebih terjangkau, sebuah sentra batik di Ponorogo tetap mempertahankan eksistensi batik tulis dengan motif kuno yang sudah jarang ditemui. Uniknya, meski menggunakan teknik tradisional yang memakan waktu, batik tulis dari Ponorogo ini malah banyak diminati, bahkan sudah menembus pasar internasional.
Salah satu sentra batik tulis tersebut adalah Batik Lesoeng, yang terletak di Kelurahan Mangkujayan, Ponorogo. Pengrajin di sini masih menggunakan metode tradisional dengan canting dan malam panas untuk melukis motif batik pada kain mori yang berukuran 1,5 x 3 meter. Proses melukis batik tulis ini, memerlukan ketelitian tinggi dan kesabaran, mengingat setiap kesalahan dapat mempengaruhi hasil akhir.
Proses pembuatan batik tulis di Batik Lesoeng, tidak hanya berhenti pada tahap melukis motif. Setelah motif batik selesai dilukis, kain tersebut akan melalui tahap pewarnaan dasar dan diproses menggunakan alat pengepres kain. Setelah itu, kain akan dicuci untuk menghilangkan sisa malam sebelum akhirnya dikeringkan.
Kristine Hery Purnamawati, pendiri Batik Lesoeng, menjelaskan bahwa tujuan utama didirikannya sentra batik ini adalah untuk melestarikan motif batik Ponorogo kuno yang semakin hilang di pasaran. Menurutnya, banyak pengrajin batik di Ponorogo yang lebih memilih memproduksi motif batik kontemporer yang lebih diminati saat ini, sehingga motif-motif lama mulai terlupakan.
Kristine mendirikan Batik Lesoeng pada tahun 2008 dengan tujuan menjaga agar motif pakem batik Ponorogo tetap hidup. Ia juga berharap agar industri batik di Ponorogo, yang sempat berjaya pada tahun 1970-an, dapat kembali berkembang.
“Sekarang banyak yang lebih memilih motif kontemporer. Saya ingin agar motif batik Ponorogo lama tetap lestari,” jelas Kristine, ditulis Rabu (2/10/2024).
Meskipun proses produksi batik tulis memakan waktu yang lama, batik buatan Batik Lesoeng telah menarik perhatian pasar internasional. Harga batik tulis ini bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga mencapai Rp15 juta per lembar, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan ukuran kain. Kristine menyebutkan bahwa batik tulis Ponorogo miliknya, sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Singapura dan Turki. “Selain pasar domestik di Indonesia, Batik Lesoeng pemasarannya juga sampai Singapura, bahkan sampai Turki,” katanya.
Kristine berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Ponorogo, dapat terus mendukung dan mempopulerkan penggunaan batik lokal. Dengan demikian, sentra-sentra batik yang hilang dapat kembali hidup, menjadikan Ponorogo sebagai salah satu pusat industri batik di Jawa Timur. “Batik tulis Ponorogo masih memiliki tempat di hati konsumen, baik lokal maupun mancanegara,” tutup Kristine. [end/beq]






