Pacitan (beritajatim.com) – Setelah sempat terhenti selama beberapa pekan, aktivitas penangkapan benur (benih lobster) di wilayah Kabupaten Pacitan kembali menggeliat. Sejumlah nelayan yang berlabuh di teluk Pacitan mulai kembali turun ke laut sejak dua malam terakhir.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Maju Makmur, Mashuri, menyampaikan bahwa kondisi harga benur yang sebelumnya anjlok membuat para nelayan sempat menghentikan aktivitas mereka. “Sejak dua malam ini mulai mencari benur, Terakhir itu harganya hanya seribu rupiah per ekor. Nelayan mau makan apa? Ya pilih berhenti saja,” ungkap Mashuri, Kamis (26/6/2025).
Namun saat ini, ia menyebut harga di tingkat pengepul mulai naik hingga mencapai Rp5.000 per ekor, sehingga nelayan pun kembali bersemangat melaut.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pacitan, Bambang Marhaendrawan, mengakui bahwa secara resmi permintaan benur masih ditutup akibat moratorium dari pemerintah pusat. Belum ada informasi pembukaan kembali impor benih lobster.
“Kami menyambut baik informasi bahwa nelayan sudah bisa menjual benur kepada pengepul maupun koperasi. Semoga ini menjadi isyarat bahwa moratorium segera dicabut dan harga bisa ikut terkerek naik,” ujar Bambang.
Menurutnya, selama masa penutupan, Pemerintah Kabupaten Pacitan terus melakukan komunikasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), memperjuangkan hak-hak nelayan benur agar setara dengan nelayan ikan lainnya.
Bambang mengimbau para nelayan untuk tetap mematuhi aturan yang berlaku dalam aktivitas penangkapan benur, agar tidak terjerat persoalan hukum. “Kami mengarahkan agar penangkapan dilakukan sesuai regulasi. Jangan sampai semangat mencari nafkah justru membawa masalah hukum,” pungkasnya. (tri/kun)






