Ngawi (beritajatim.com) – Harga cabai rawit di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, melonjak drastis hingga menembus Rp110 ribu per kilogram dalam sepekan terakhir. Kondisi ini membuat warga beralih ke cabai rawit kemasan eceran yang dijual dalam bungkus plastik kecil di Pasar Beran, Desa Beran, Kecamatan Ngawi Kota, pada Selasa (4/3/2025) pagi.
Setiap bungkus plastik kecil berisi 7 hingga 8 biji cabai dijual seharga Rp3.000 per bungkus kepada konsumen, sementara pedagang sayur keliling mendapatkannya dengan harga Rp2.000 per bungkus. Padahal, sebelumnya harga cabai kemasan ini hanya Rp1.300 per bungkus.
Menurut Edi Suyono, seorang pedagang grosir, kenaikan harga cabai rawit dalam kemasan ini sudah terjadi dalam sepekan terakhir.
“Cabai tembus Rp110 ribu, saya jual eceran bungkus plastik biar bisa dijangkau. Ada bungkus kecil isi 7 hingga 8 biji kita jual Rp2.000, yang bungkus besar Rp5.000 isi 15 biji cabai. Naik sejak sepekan. Begitu juga bawang merah, minyakita juga sulit,” ujarnya.
Selain kemasan kecil, tersedia pula kemasan lebih besar yang berisi 15 biji cabai dan dijual Rp5.000 per bungkus, naik dari harga sebelumnya Rp4.000. Pedagang sayur keliling kemudian menjualnya kembali ke masyarakat dengan harga Rp7.000 per bungkus.
Prayitno, seorang pedagang sayur keliling, mengakui bahwa harga cabai semakin mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat. “Cabai ini tembus Rp110 ribu, saya jual per bungkus Rp3.000. Jika tidak mau ya sudah, harganya makin pedas. Bahan pokok lainnya juga naik, bawang merah juga,” katanya.
Tak hanya cabai rawit, harga bawang merah juga mengalami kenaikan signifikan, dari sebelumnya Rp28 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara itu, minyak goreng bersubsidi merek Minyakita kini dijual Rp17 ribu per liter, naik dari sebelumnya Rp16.500, namun stoknya mulai langka di pasaran.
Kenaikan harga berbagai bahan pokok ini dikhawatirkan akan terus berlanjut hingga setelah Lebaran, sehingga menambah beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. [fiq/aje]






