Surabaya (beritajatim.com) – Kebisingan yang berasal dari lokasi rekreasi hiburan umum (RHU) di Jalan Kombes Pol M Duryat, pusat Kota Surabaya dikeluhkan warga. Pihak Manajemen RHU menjelaskan hal itu sudah dilakukan antisipasi, Rabu (30/10).
Agus Budiono, selaku Humas RHU menyebutkan kalau keluhan dari warga sekitar selama ini tidak ada. Namun yang pernah menyampaikan keluhan itu hanya dari pihak hotel.
“Untuk warga nggak ada keluhan yang masuk ke saya. Kalau untuk Hotel Ibis, sempat memberikan info kalau ada keluhan,” terang Agus dikonfirmasi hari ini.
Dia mengungkapkan, penyebab suara bising yang dikeluhkan pihak hotel itu berasal dari sejumlah bangunan bolong. Hingga menyebabkan kebocoran audio.
“Ada beberapa bangunan yang lubang itu diduga penyebab dari kebocoran audio. Itu sudah kita tanggapi kok, sudah kita benahi, yang lubang lubang sudah kita tutup semua,” ungkap Agus.
Itu pun, Agus bilang, kejadiannya sudah berlangsung lama. Namun jika suara bising ini masih terdengar oleh warga sekitar hingga saat ini, itu lantaran suasana malam yang sunyi.
“Kalau yang kemarin sudah kita antisipasi dan kita tanggapi. Ya mungkin kalau pas malam kan semakin malam semakin sunyi, mungkin sedikit nge-dum nge-dum iya. Tapi kan enggak yang bocor brutal,” tutup dia.
Diberitakan sebelumnya, Warga dan juga tamu hotel di sekitar rekreasi hiburan umum atau [RHU] di Jalan Kombes Pol M Duryat, Surabaya, mengeluhkan polusi suara bising akibat aktivitas musik RHU hingga larut malam, Selasa 29/10/24.
Salah seorang warga yang mengeluh adalah Yati, warga Embong Blimbing. Kata dia, alunan musik terlalu kencang dari RHU setiap malam mengakibatkan dia susah tidur. Tetapi selama ini ia diamkan.
“Dikatakan tidak bisa tidur ya tidak bisa. Karena suaranya bising sangat keras dari Valhalla,” kata Yati, Selasa.
Yati bercerita sebelum ada RHU di lingkungannya itu kehidupan mapan warga tenang – tenang saja. Dan saat akan ada pendirian RHU sebagian warga diundang rapat, dan warga menyetujuinya.
“Dalam rapat bersama warga, kata pihak Valhalla suaranya tidak sampai terdengar keras seperti ini, peredamnya ditata agar tidak terdengar,” ujarnya.
Selain itu, Yati juga menjelaskan bahwa penghuni rumah warga paling terkena dampak parah ada di RT02 RW08, sebab lokasinya paling dekat dengan RHU.
“Katanya Ketua RT 02 sudah mendatangi pihak Valhalla, tapi hasilnya tidak sesuai (yang dirasa warga masih sama),” imbuh Yati.
Masih di lokasi yang sama, Tatik yang merupakan warga RT 02 juga mengaku mendengar suara keras dari RHU mulai malam hingga pagi. Namun dia mengaku tidak terganggu dengan suara keras itu.
“Iya saya mendengar suara bising, tapi saya tidak terganggu,” kata dia singkat.
Sementara itu, Ketua RW08 Tomy membenarkan adanya suara bising dari RHU tersebut. Dan ada beberapa warga yang mengeluh termasuk tamu hotel. Kendati demikian, dia maupun manajemen hotel tidak mempermasalahkan dan telah diskusi baik baik.
“Memang saya akui, ada dua RT dari RW 08 yang ingin memanfaatkan kebisingan suara dari Valhalla. Mereka ini ingin mendapatkan uang dari Valhalla untuk kepentingan pribadi,” terang Tomy.
Padahal, lanjut Tomy, pihak RHU maupun Hotel di sini sudah memberikan peluang bagi warga kami. Mulai dari penyerapan tenaga kerja 70 persen, serta rutin setiap bulannya memberikan patungan keamanan.
“Hampir 70 persen warga diperbolehkan kerja di klub malam (RHU) itu, namun kebanyakan warga saya tidak ada yang mau dengan alasan beragam pula,” jelas Ketua RW itu.
Terpisah, seorang manajemen RHU saat ditemui mengaku tidak bisa memberikan penjelasan soal bisingnya suara yang dikeluhkan warga tersebut. Pihaknya menjelaskan, akan pengelola berwenang yang memberi tanggapan atas hal ini.
“Silakan mencatat dulu nama dan nomor HP. Ini nanya biar pihak manajemen pengelola yang akan menghubungi,” kata pria muda yang enggan menyebutkan namanya. [ram/ian]






