Pertandingan semifinal Copa America 2024 antara Uruguay dengan Kolombia di Stadion Bank of America, Charlotte, Amerika Serikat, Kamis (11/7/2024) diakhiri dengan baku pukul antara pemain Uruguay dengan fans Kolombia.
Tentu saja, setiap kisah punya dua versi. Bahkan tiga versi (kalau ini dihitung dari kacamata petugas keamanan Amerika Serikat). Versi yang paling populer adalah sejumlah pemain Uruguay berang karena keluarga mereka yang tengah menonton di tribun diserang oleh fans Kolombia.
Maka mengamuklah Darwin Nunez. Ujung tombak Uruguay itu berlari dari tengah lapangan, melompat masuk ke tribun, dan melayangkan bogem ke arah seorang penonton berbaju kuning yang sewarna dengan jersey Kolombia. Meleset, sama melesetnya dengan sejumlah peluangnya ke gawang Kolombia.
Namun apapun versinya, insiden tersebut menandakan kegagalan orang-orang Amerika Serikat memahami sepak bola di Amerika Selatan. Membiarkan suporter beda negara duduk berdampingan dalam satu tribun adalah kesalahan besar. Sepak bola di Amerika Latin bukan bola basket atau baseball di Amerika yang bisa ditonton santai sambil ketawa-ketiwi dan makan hotdog.
Jorge Knijnik, seorang doktor ilmu psikologi sosial kelahiran Porto Alegre, Brasil, menyebut hikayat sepak bola Amerika Selatan merupakan kombinasi antara gairah, revolusi politik, dan kejayaan. Sebagai seorang mantan bek tengah Yuracan Football Club yang kemudian bermigrasi ke Australia, ia memahami bagaimana sepak bola lebih dari sebuah permainan.
Sepak bola memiliki jalinan dengan tatanan sosial dan politik seluruh masyarakat Amerika Selatan. “Aspek politik dari permainan ini lebih luas dibandingkan di negara lain,” katanya dalam buku Tales of South American Football: Passion, Revolution and Glory [2024].
Politik sepak bola memiliki dampak di Amerika Selatan, sesuatu yang jarang terlihat di tempat-tempat lain. Menurut Knijnik, sepak bola di Amerika Selatan ‘has been weaponized as an ultimate tool to, on the one hand, promote authoritarian government; and, on the other, to critique, question and even overthrow tyrannies that have sprung up across the subcontinent for several decades’.
Sepak bola bisa melanggengkan kekuasaan tirani. Namun juga bisa menggulingkannya pada lain waktu.
Seorang politisi yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan sepak bola, namun menduduki posisi presiden klub Boca Junior seperti Mauricio Macri, bisa menjadi presiden Argentina pada 2015-2019.
Augusto Pinochet, diktator militer Chile yang menggulingkan Presiden Salvador Allende dengan Operasi Jakarta pada 1973, memaksa manajemen klub Colo-Colo menobatkannya sebagai presiden kehormatan. Manajemen Colo-Colo menghapus nama Pinochet dari buku sejarah klub 42 tahun kemudian.
[Soal Pinochet dan Chile ini, saya merekomendasikan Anda membaca buku Arief Budiman berjudul Jalan Demokratis ke Sosialisme: Pengalaman Chili di Bawah Allende dan buku Vincent Bevins yang sudah diterjemahkan dengan judul Metode Jakarta.]
Namun Knijnik tak ingin merayakan penyalahgunaan sepak bola oleh diktator. Dalam tiga bagian bukunya, dia justru mengungkapkan keterkaitan sepak bola dengan pertarungan politik, pertarungan kelas sosial, dan elemen budaya di berbagai negara di Amerika Selatan, serta bagaimana sepak bola menjadi alat perjuangan rakyat.
Semua punya cerita, mulai dari kaos tim nasional yang digunakan untuk mendukung politisi ekstremis hingga produksi kopi; dari protes sosial hingga revolusi kaum feminis. Persis seperti yang dikatakan pejuang kiri Che Guevara. “Sepak bola adalah senjata revolusi.”
Passion atau gairah sepak bola Amerika Selatan terbaca dari derbi antara dua klub besar Argentina, Boca Junior dengan River Plate. Rivalitas kedua klub tersebut sangat intens melampaui tribun penonton. Derbi adalah sebutan pertandingan sepak bola antara dua tim yang berasal dari kawasan dan atau latar belakang sosial yang sama.
Kedua klub itu sebenarnya lahir di lokasi yang sama di La Boca, kawasan pekerja dermaga Buenos Aires selatan. Namun intensitas persaingan meningkat, terutama setelah River Plate direlokasi ke kawasan utara yang secara sosial ekonomi lebih baik. Setiap kali superclasico, sebutan pertandingan kedua klub itu, digelar, saat itulah perhatian publik Argentina tercurah.
Rivalitas yang memiliki motif ekonomi politik lebih luas tersaji dalam derbi tiga klub di kawasan Eje Cafetero, sebuah kawasan penghasil kopi terbaik dunia di Kolombia, yang disebut El Clasico Cafeterpo alias derbi kopi, antara Once Caldas, Deportivo Pereira, dan Deportes Quindio.
Sepak bola menjadi kanal kemarahan warga kota Armenia dan Pereira terhadap pemerintahan di Manizales, ibu kota kawasan itu, karena tidak mencukupi kebutuhan dasar mereka, seperti pendirian puskesmas dan sekolah, pada awal abad 20.
Tentu saja klub bukan satu-satunya aktor dalam sepak bola Amerika Selatan. Ada orang-orang yang gagah berani di sana. João Saldanha disingkirkan dari kursi pelatih tim nasional Brasil jelang Piala Dunia 1970 gara-gara berani menolak keinginan Presiden Emilio Medici untuk memainkan striker Dada Maravilha.
Namun itu bukan satu-satunya alasan pemecatan Saldanha. Alasan sesungguhnya adalah karena Saldanha anggota Partai Komunis, musuh Medici, dan berbicara soal pembunuhan kawan baiknya yang juga pemimpin gerilya, Carlos Marighella, oleh polisi di jalanan Kota Sao Paulo pada November 1969.
Saldanha digantikan Mario Zagalo. Namun keberaniannya menolak keinginan Medici tak keliru. Tim bentukannya ini kemudian menjadi juara Piala Dunia 1970. Dia dianggap sebagai pelatih yang meletakkan dasar filosofi Jogo Bonito. Sebuah filosofi yang hanya dikenang karena keindahannya dan ditangisi karena kegagalannya di tangan Italia pada Piala Dunia 1982.
Aktor lainnya dalam sepak bola Amerika Selatan adalah pemain. Knijnik menyebut penjaga gawang Kolombia, Rene Higuita, sebagai pengubah permainan (game changer). Dia pernah dipenjara tujuh bulan karena terlibat dalam penculikan dan pernah bermain sepak bola di penjara dengan gembong besar narkotika Pablo Escobar. Relasi antara sepak bola Kolombia dan narkotika diceritakan dengan apik oleh David Arrowsmith dalam buku Narcoball: Love, Death and Football in Escobar’s Colombia [2024].
Namun di luar rekor kriminalnya yang mencengangkan, Higuita adalah contoh sejati dan bahkan mungkin sweeper keeper pertama di dunia. Saat penjaga gawang umumnya lebih suka berdiam diri di area penalti, ia justru lebih suka menggiring bola jauh ke depan sebelum mengoperkannya ke pemain lain.
Sementara itu, tiga pemain Brasil, Afonsinho, Reinaldo, dan Sócrates, masing-masing dikenang bukan hanya karena gaya bermain mereka di lapangan, namun keberanian mereka terlibat dalam revolusi menantang rezim diktator.
Pele menyebut Afonsinho pemain yang merdeka. Berbeda dengan pemain sepak bola di Brasil yang berlatar belakang sosial kelas bawah, Afonsinho punya gelar sarjana dan berani mendeklarasikan diri sebagai komunis pada saat rezim militer Medici berkuasa.
Keberaniannya bagi mayoritas rakyat Brasil dipandang sebagai kenekatan atau ketidakwarasan, karena rezim ini punya hobi menculik dan menyiksa warganya sendiri, sebagaimana diceritakan Henrique Schneider dalam novel 1970 yang diterbitkan Marjin Kiri. Afonsinho juga dikenang karena keberaniannya menantang klubnya sendiri dan otoritas tim nasional yang didukung rezim militer.
Sementara itu Reinaldo mashyur karena keberaniannya merayakan gol ke gawang Swedia pada Piala Dunia 1978, dengan cara mengacungkan tinju ke atas, meniru gaya aktivis Black Panther, sebuah organisasi revolusioner kulit hitam di Amerika Serikat.
Beberapa hari setelah selebrasi itu, dia memperoleh surat kaleng dari Venezuela yang menjelaskan Operasi Condor dengan detail. Ini operasi bersama rezim enam negara Amerika Selatan yang dimulai pada 1975 untuk menculik orang-orang komunis dan mereka yang dianggap membahayakan negara.
Berbeda dengan Afonsinho dan Reinaldo, Socrates tenar karena aktivitas politiknya. Sebagaimana Afosinho, dia dari kalangan terpelajar: seorang dokter. Knijnik menyebut gaya bermain sepak bola dan aktivitas politik Socrates tak hanya mempengaruhi dunia sepak bola tapi juga tatanan sosial Brasil.
Socrates percaya olahraga sangat efektif untuk mendidik masyarakat dan melakukan perubahan. Bersama klubnya Corinthians, dia memprakarsai gerakan Corinthians Democracy yang menuntut pemilu bebas di Brasil.
Sepak bola di Amerika Selatan tidak selalu soal laki-laki. Sepak bola perempuan di Bolivia diperjuangkan oleh sejumlah perempuan tomboy yang dalam bahasa Qucheua disebut karimachus. Salah satu tokohnya adalah Zdenscka Bacarreza, seorang pemain dan kemudian menjadi manajer tim nasional sepak bola putri Bolivia, yang menamakan dirinya sendiri dengan nama laki-laki: Marco Antonio.
Sepak bola membantu suporter dan keluarga yang menjadi korban kediktatoran di Uruguay, Chile, dan Argentina untuk memperjuangkan keadilan transisional pada masa berakhirnya rezim. Klub asal Argentina. Atletico Huracan memasang montase artistik di dinding stadion untuk mengenang delapan anggota mereka yang hilang diculik rezim pada era 1970-an. Ini bagian dari dukungan komunitas klub sepak bola Argentina terhadap gerakan sosial menuntut tanggung jawab kepada pemerintah terhadap hilangnya 30 ribu warga.
Knijnik mengakui sekian cerita di bukunya bukan panduan pasti sejarah sepak bola Amerika Selatan atau ingin menampilkan tafsir sosiologis absolut. “Alih-alih demikian, kisah-kisah di buku ini ingin menyajikan cita rasa sepak bola yang penuh kegembiraan di tengah komunitas-komunitas tertindas lintas negara,” tulisnya.
Andy Harper, seorang mantan pemain sepak bola Australia bergelar doktor, menyebut Knijnik telah mendekatkan orang dengan esensi misteri sepak bola di Amerika Selatan. Termasuk menjawab pertanyaan besar, bagaimana sebuah permainan olahraga yang diimpor dari Inggris bisa begitu cepat menguasai kesadaran sebuah populasi non anglo.
Muito obrigado, Jorge, abraços. [wir]






