Jember (beritajatim.com) – Penanganan tengkes atau stunting di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dinilai kurang maksimal. Bupati Hendy Siswanto diminta tetap berkonsentrasi pada pencapaian target dalam bidang kesehatan sebagaimana dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026.
Kecaman ini dilontarkan Siswono, politisi Partai Gerakan Indonesia Raya, dalam Sidang Paripurna Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2023, di gedung DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (6/6/2024) siang.
“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2023, bayi yang lahir di Jember 31.544 jiwa. Berat bayi lahir rendah 1.819 jiwa atau 5,77 persen. Bayi yang mengalami gizi kurang 6.250 jiwa. Ini cukup memprihatinkan, karena berdasarkan data tersebut, hampir 20 persen dari bayi yang lahir di Jember pada 2023 mengalami kurang gizi,” kata Siswono.
Padahal, lanjut Siswono, salah satu program unggulan yang dijanjikan Bupati Hendy Siswanto adalah Gerakan Masyarakat Jember Peduli Ibu dan Balita (Gemar Jelita). “Di sisi anggaran, bidang kesehatan punya anggaran cukup fantastis yakni sebesar Rp 848,982 miliar atau 33,4 persen dari total belanja urusan wajib yang berkait belanja pelayanan dasar,” katanya.
Siswono ingin Bupati Hendy dan Dinas Kesehatan Jember berfokus pada program dan pencapaian target yang dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026. “Jadi tidak melantur. Fokus pada penanganan stunting. Jangan bebani tenaga kesehatan di bawah untuk dalam tanda kutip berkampanye dengan menggunakaan APBD, sehingga melupakan tugas pokok,” katanya.
Sebelumnya, dalam forum yang terpisah, Bupati Hendy mengakui jika angka prevalensi tengkes di Jember masih tinggi kendati sudah mengalami penurunan dari 34,9 persen menjadi 29,7 persen. “Capaian kita positif sejak 2021. Tapi apakah itu maksimal? Belum. Waktu kita sangat mepet, sangat sempit untuk melakukan treatment bagi 2,6 juta penduduk Jember,” kata Hendy, dilansir Beritajatim.com, Rabu (29/8/2024).
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Pemkab Jember termasuk dalam 20 kabupaten dan kota yang berhasil menurunkan prevalensi stunting. Jember kini berada di peringkat keempat prevalensi stunting tertinggi, setelah pada 2022 menduduki peringkat pertama.
“Angka yang ditampilkan dari 34,9 menjadi 29,7 bagus, turun lima persen. Tapi angkanya masih tinggi, dan angka itu menjadi problem buat kami sebenarnya. Tidak sesederhana kita menulis angka saja,” kata Hendy. [wir]






