Lumajang (beritajatim.com) – Keseruan kegiatan memasak berbagai macam makanan ala pesantren bersama antara para alumni ponpes kyai dan santri di Lumajang dikenal dengan istilah Ngliwet.
Tradisi Ngliwet ini dilakukan oleh para Gawagis, kyai serta alumni santri di kediaman Cak Thoriq, mantan bupati Kabupaten Lumajang periode 2018-2023 lalu di Kelurahan Jogoyudan, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang.
“Alhamdulillah ini terus rutin. Awalnya hanya gus dan lurah yang ikut. Tapi sekarang mulai banyak yang ikut” ungkap Dr Muhammad Muslim Kepala Kemenag Kabupaten Lumajang, Rabu (8/5/2024) malam.
Ngliwet juga menjadi forum silaturahmi dan diskusi agama para tokoh agama dan elemen masyarakat yang pernah menjadi seorang santri. Agenda tersebut hampir setiap bulan dilakukan bersama Kementrian Agama Kabupaten Lumajang sebagai momen bernostalgia mengenang kembali masa-masa menjadi seorang santri.
“Manfaatnya banyak, sebagai tempat silaturahim, curhat dan masih banyak lainnya. Namun yang terpenting dari itu semua, ini adalah forum kekeluargaan” lanjutnya
Beragam jenis bahan masakan seperti ikan laut dan terong menjadi menu utama hidangan Ngliwet. Setelah dibakar, nantinya lauk, nasi, serta sambal akan disajikan di atas daun pisang. Kegiatan tersebut sama persis dilakukan oleh santri, sehingga menjadi memorable. Kemudian, hidangan disantap bersama-sama oleh para alumni santri dan gawagis.
“Ini rutin dilakukan dari kalangan alumni, pegiat, pengasuh, dan guru di pesantren. Ngliwet itu, masak yang model pondokan. Yang khusus itu terong dimasak drngan cara dibakar” ungkap Thoriqul Haq mantan Bupati Lumajang. [dav/aje]






