Surabaya (beritajatim.com) – Korban pencabulan oknum polisi di Surabaya belum mendapatkan pendampingan psikologi. Hal itu diungkap oleh nenek korban saat ditemui Beritajatim.com, Senin (22/04/2024).
“Belum mas. Belum ada pendampingan apapun secara psikologis. Pihak Pemkot Surabaya belum ada yang datang. Jadi kemarin keluarga yang urus sendiri,” kata NH, nenek korban.
Beritajatim.com sempat bertemu korban. Tatapan matanya kosong. Ia hanya mampu menjawab pertanyaan dengan maksimal dengan 2 kalimat pendek. Sepanjang berbicara, ia hanya duduk sambil menunduk. Sesekali ia memainkan rambut untuk menghilangkan grogi.
NH kembali bercerita bahwa korban sempat tidak mau makan hingga badannya kurus. Korban juga melampiaskan emosi negatifnya dengan minum-minuman miras dan menjadi pengamen. Hal ini dilakukan untuk menghindari pelaku K (53) karena korban selalu ketakutan.
“Jadi sampai dia itu gaberani pulang. Ngamen mas. Saya nelongso sebagai nenek,” imbuh NH.
Beritajatim.com sempat menanyakan bagaimana keseharian korban bersama pelaku K dan ibunya. Ia menjawab dengan singkat dan diakhiri senyum getir.
“Saya gak dekat sama semuanya,” tutup korban. (ang/ian)






