Kasim Botan menangis sesenggukan di pelukan Paul Munster. Pelatih asal Irlandia Utara itu menenangkannya. Air mata tidak akan mengubah kekalahan Persebaya Surabaya dari Borneo FC di Stadion Batakan, Balikapapan, Kalimantan Timur, dalam Pekan 28 Liga 1 2023-24, Kamis (7/3/2024).
Munster kini bisa merasakan apa yang dirasakan Ottmar Hitzfeld, pelatih Bayern Munchen dalam final Piala Champions Eropa pada 15 Mei 1999. Persebaya Surabaya kini merasakan nestapa yang sama dalam level berbeda.
Saat itu, Munchen hanya perlu menunggu empat menit tambahan waktu injury time untuk memenangi pertandingan dan merengkuh trofi, setelah Mario Basler membukukan keunggulan 1-0 sejak menit 6.
Namun hanya dalam tiga menit tambahan dari waktu normal, semua harapan berubah menjadi kepedihan. Menit pertama tambahan dari 90 menit, Teddy Sheringham menjebol gawang Oliver Kahn. Dua menit kemudian giliran ‘pembunuh berwajah bayi dari Norwegia’ Ole Gunnar Solkjaer mengakhiri pertandingan dengan skor 2-1.
Fans Bayern Munchen meratap. Fans Manchester United berpesta pora dan mengenang capaian itu hingga hari ini, terutama karena betapa susahnya klub idola mereka meraih gelar juara Eropa dibandingkan Liverpool. Hingga musim 2023-24, United hanya sukses mengumpulkan tiga piala dibandingkan Liverpool yang sudah enam kali mengangkat trofi Piala Eropa Antarklub.
Keindahan sepak bola ada pada hasil akhir yang tak bisa ditebak. Persebaya sempat membuka kebuntuan pada menit 85 melalui tendangan keras Toni Firmansyah pada menit 85. Pemain berusia 19 tahun itu membuat optimisme Bonek yang hadir di antara 9.093 orang penonton di Batakan kembali merekah.
Hanya tinggal lima menit waktu normal. Keunggulan 1-0 harus dipelihara dengan merapatkan tembok pertahanan. Namun kelelahan dan ketegangan adalah kombinasi toksik jelang akhir pertandingan yang tak semua pemain sepak bola sanggup menanggungnya.
Maksud hati membuang bola dengan tandukan, Kasim Botan justru mencetak gol ke gawang sendiri pada menit 90+2. Pemain berusia 26 tahun itu terkapar di lapangan sembari menutup wajah. Dusan Stevanovic berusaha memberikan kata-kata penyemangat. Namun lima menit kemudian, sebuah sepak pojok menjadi awal bagi gol kemenangan Borneo yang dicetak Ikhsanul Zikrak.
“Football bloody hell!” Kalimat sumpah serapah terkenal Alex Ferguson untuk menggambarkan betapa tak tertebaknya sepak bola akhirnya bergema di Batakan. Kalah dengan cara seperti itu tak ubahnya kutukan bagi pesepakbola mana pun, dan kemenangan pun dirayakan layaknya juara.
Persebaya sebenarnya pernah merasakan momentum ‘Football bloody hell’ saat melawan Persiwa Wamena di Stadion Gelora 10 Nopember, 15 November 2009. Dua gol yang dicetak Yesaya Desnam pada menit ke-38 dan Boakay Eddie Foday menit ke-41 membuat Persiwa menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0.
Bagaikan merayakan heroik Hari Pahlawan, Persebaya menyamakan skor melalui Taufiq pada menit ke-53 dan Korinus Fingkrew menit ke-74. Namun, buruknya pertahanan Persebaya saat itu membuat Persiwa kembali unggul 4-2 melalui Erick Lewis pada menit ke-76 dan Alberto Mambasar pada menit ke-78.
Tinggal 12 menit tersisa. Persebaya butuh keajaiban, dan saat itu Tuhan memberikan jawaban melalui Korinus Finkrew pada menit 81 dan Andi Odang pada menit 83. Finkrew menjadi pahlawan kemenangan setelah mencetak gol pada menit akhir.
Bagi Kasim Botan, kekalahan Persebaya ini lebih menyakitkan daripada yang diderita Munchen. Ia tak pernah membayangkan bakal mengawali petaka bagi timnya. Paulo Henrique, striker Persebaya, juga pernah mencetak gol bunuh diri saat melawan Persita Tangerang. Namun, pemain asal Brasil itu masih punya kesempatan untuk kemudian mencetak gol penyama kedudukan.
Bagaimana rasanya mencetak gol bunuh diri? Kasim Botan menangis penuh penyesalan. Namun para suporter Persebaya memberinya semangat, dan suporter lawan pun tak ada yang meledek.
Jamie Pollock bernasib lebih sial daripada Botan. Pemain Manchester City ini diledek seumur hidup gara-gara mencetak gol indah ke gawangnya sendiri melalui sundulan saat timnya melawan Queens Park Ranger pada 1998. Tak tanggung-tanggung, suporter QPR menyerbu sebuah jajak pendapat daring di internet dan mengabadikan namanya sebagai sosok yang paling penting dalam satu milenia terakhir di atas nama Yesus.
Bahkan, Pollock dinobatkan sebagai QPR’s Player of The Year versi fans, dan mendapat kiriman kartu natal. Saat Manchester City bertamu kandang QPR di Loftus Road dan Pollock duduk di bangku cadangan, fans QPR bernyanyi memintanya bermain dan mencetak gol bunuh diri lagi.
Pollock menanggapi ledekan itu dengan riang gembira. “Mereka brilian. Saya tidak keberatan,” katanya, dikutip Simon Johnson dalam artikel berjudul ‘What It Feels Like to Score an Own Goal’ yang ditertbitkan The Athletic, 20 Mei 2021.
Botan juga lebih beruntung daripada Andres Escobar, yang ditembak mati di negaranya usai Kolombia dikalahkan 1-2 oleh Amerika Serikat, dalam Piala Dunia 1994. Escobar dianggap jadi biang kekalahan Kolombia karena mencetak gol bunuh diri.
Gol bunuh diri sebenarnya tidak menunjukkan kualitas pemain. Empat besar pencetak gol bunuh diri terbanyak sepanjang masa di Liga Primer Inggris adalah pemain tim nasional. Richard Dunne, pemain asal Irlandia yang pernah memperkuat Aston Villa, Manchester City, dan Everton, menjadi pencetak gol bunuh diri terbanyak dengan 10 gol, diikuti Jamie Carragher (Liverpool/Inggris), Phil Jagielka (Everton/Inggris), dan Martin Skrtel (Liverpool/Slowakia) yang masing-masing mencetak tujuh gol.
Gol bunuh diri hanya masalah kesialan. Kasim Botan tetap pemain sayap kanan yang penting bagi Persebaya dalam skema Paul Munster. Dia sudah menciptakan tiga assist untuk Persebaya musim ini. Aksi eksplosifnya juga membuka ruang bagi lini depan untuk mencetak gol.
“Saya ditanya, ‘Apa rasanya mencetak gol bunuh diri?’ Hanya kecewa. Saya tidak lebih kecewa dibandingkan pemain lain dalam tim. Tidak ada budaya menyalahkan dalam klub-klub tempat saya bermain. Kami menang dan kalah bersama. Tidak satu pun yang dituding,” kata Frank Sinclair, mantan pemain Chelsea.
Pada akhirnya, kesalahan akan selalu mengajarkan cara mencari jalan menuju kemenangan. [wir]






