Blitar (beritajatim.com) – Harga telur ayam di pasaran Blitar jelang ramadhan ini, telah menyentuh Rp. 33 ribu rupiah per kilogramnya. Meski mahal, ternyata para peternak ayam petelur di Blitar belum bisa merasakan manisnya keuntungan dari harga pasar tersebut.
Pasalnya disaat harga pasaran menyentuh Rp. 33 ribu rupiah, harga telur di peternak hanya dibeli tengkulak Rp. 28 ribu rupiah saja. Ada selisih harga yang lumayan tinggi antara pasaran dan peternak.
Dengan harga Rp. 28 ribu rupiah tersebut para peternak ayam petelur belum bisa menikmati keuntungan. Pasalnya saat ini harga pakan ternak juga melambung tinggi. Jagung yang menjadi bahan utama pakan ternak kini dijual dengan harga Rp. 5.900 per kilogram.
Begitu pula dengan pakan pabrikan lainnya. Jika ditotal biaya pakan ternak ayam untuk menghasilkan 1 kilogram telur adalah Rp.28 ribu rupiah. Biaya tersebut masih terbatas untuk pakan, belum yang lain seperti jasa buruh hingga kendaran pengangkut.
“Menurut saya sekarang masih harga kesimbangan, karena untuk menghasilkan 1 kilogram telur itu membutuhkan data 3,5 kilogram pakan, sementara harga pakan kita Rp. 8 ribu, jadi untuk menghasilkan 1 kilogram telur itu kami harus mengeluarkan biaya pakan Rp. 28 ribu rupiah,” kata Suryono, peternak ayam petelur rakyat Blitar, Minggu (10/03/24).
Harga telur Rp. 28 ribu rupiah per kilogram ini masih bertahan selama 2 hari belakangan. Sebelumnya harga telur di peternak belum pernah melewati Rp. 27 ribu rupiah per kilogramnya.
Jika harga telur di kandang hanya berada di bawah Rp. 28 rupiah/kg, maka bisa dipastikan peternak merugi. Karena biaya pakan dan akomodasi tidak sebanding dengan harga di pasaran.
“Sebelumnya di harga 23, 24 bahkan harga Rp. 22 ribu itu lama sekali, itu kan kemarin pada waktu harga jagung Rp. 9.300 per kilogram itu harga telur masih Rp. 22.500 sehingga pada saat itu kami setiap hari menanggung kerugian,” imbuhnya.
Kestabilan harga telur serta keterjangkauan harga pakan tentu menjadi dua hal yang paling diharapkan oleh peternak ayam petelur rakyat di Blitar. Jika kedua hal ini tidak pernah tercapai maka keberadaan peternak ayam di Blitar akan terancam.
Bahkan dengan kondisi saat ini tidak sedikit peternak ayam di Blitar yang berguguran akibat gulung tikar. Hutang yang ditanggung oleh peternak untuk biaya pakan dan akomodasi lainnya, tidak sebanding dengan harga jual telur.
Para peternak rakyat di Blitar pun kini terpaksa mengurangi jumlah populasi ayam petelurnya. Hal itu dilakukan demi mengurangi biaya pakan yang semakin hari tidak terjangkau.
“Saya populasinya berkurang drastis dulu saya beternak hingga 15 ribu ekor tapi sekarang 4 ribu ekor tidak ada, hutang dimana-mana, biaya pakan mahal sedang harga telur di peternak tidak bagus,” kata Tiwin, peternak ayam rakyat.
Para peternak ayam petelur ini menjadi kambing hitam saat harga telur di pasaran melonjak. Padahal di tingkat peternak harga telur belum tentu naik. Ditambah lagi biaya pakan yang setiap tahunnya selalu meningkat.
Jika ditelaah lebih dalam para peternak ayam rakyat ini sebenarnya tidak bisa menentukan harga telur di pasaran. Mereka hanya mengikuti mekanisme pasar yang telah dibuat oleh para pebisnis besar.
Kehadiran pemerintah untuk mengintervensi harga pakan serta mengatur keseimbangan harga telur dipasaran tentu menjadi hal yang paling dinantikan. Jika tidak, para peternak ayam petelur rakyat ini akan berguguran akibat kebangkrutan yang mereka alami.
“Di Kademangan ini jumlah peternaknya dulu banyak sekarang yang bertahan hanya 40 orang dengan populasi ayam yang sedikit,” tegasnya.
Jumlah peternak ayam petelur di Blitar sendiri kini terus menyusut dari yang sebelumnya mencapai 4.000 an orang. Kini yang bertahan di tengah mahalnya harga pakan hanya berkisar 2.000 orang. [owi/aje]






