Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi punya tantangan untuk pengusaha yang tergabung dalam Indonesian National Shipowners’ Association (INSA). Budi berharap pengusaha pelayaran di Indonesia mampu menjadikan pelabuhan besar menjadi pusat Hub (tol) laut.
Hal itu disampaikan Menteri Perhubungan saat menghadiri acara Rapat Umum Anggota (RUA) INSA ke-XVIII di Surabaya, Jumat-Sabtu (15-16/12/2023) bertema “INSA Siap Hadapi Tantangan Menuju Indonesia Maju”.
Budi Karya, menyampaikan bahwa pemerintah akan terus berupaya mendukung pengembangan sektor pelayaran nasional.
“Kami lakukan upaya-upaya pembuatan regulasi yang sama menguntungkan INSA,” kata Budi Karya.
“Target pemerintah Indonesia menjadi Hub (tol) laut. Tidak mudah karena posisi kita di selatan. Kami ingin 2 pelabuhan besar yakni Tanjung Priuk dan Tanjung Perak bisa jadi Hub jadi kapal dengan 10 ribu Teus ke atas bisa masuk. Sehingga ongkos perjalanan dari pabrik ke pelabuhan bisa lebih murah.” paparnya usai menghadiri Rapat Umum Anggota (RUA) INSA ke-XVIII di Surabaya, Jum’at (16/12/2023).
Sementara itu, Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto menyampaikan bahwa INSA siap menghadapi tantangan global dan menjadi hub laut. Dan meminta insentif untuk kapal yang melayani jalur tol laut ditambah sehingga bisa lebih ekonomis bagi perusahaan pelayaran.
“Melalui forum RUA empat tahunan ini diharapkan terciptanya program-program kerja strategis INSA agar bisa menjawab tantangan dan meningkatkan daya saing industri pelayaran nasional,” kata Carmelita.
INSA juga enyadari pentingnya penguatan asas cabotage dalam menjaga kondusifitas iklim usaha dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Penerapan asas cabotage telah berhasil menjadi success story dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus menjadikan pelayaran merah putih sebagai tuan rumah di negeri sendiri.
Namun di sisi lain, perlu adanya peningkatan daya saing pelayaran nasional agar dapat lebih berperan di kancah global melalui program beyond cabotage. Program beyond cabotage menjadi salah satu fokus INSA dan sejumlah stakeholder, yang bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional, khususnya dalam memperbaiki defisit neraca jasa yang kerap dialami Indonesia selama ini.
Untuk itu, Focus Group Discussion (FGD) pada hari pertama RUA INSA ke-XVIII mengangkat tema “Beyond Cabotage”, dengan menghadirkan para narasumber kompeten yang membahas pendanaan pengadaan kapal, kebijakan perpajakan sektor pelayaran, pengembangan SDM pelayaran, dan teknologi terkini sektor pelayaran nasional.
“INSA berharap dapat terus meningkatkan sinergi dengan seluruh stakeholder terkait untuk mencapai tujuan bersama, yakni pengembangan sektor pelayaran nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing,” sambung Carmelita.
Di sisi lain, INSA juga semakin berperan di kancah regional dan global dengan kembali menjadi anggota Federation of ASEAN Shipowners’ Association (FASA). Pada Exco Meeting FASA beberapa waktu lalu, INSA juga terpilih menjadi ketua FASA periode 2024-2026. Ketua FASA periode tersebut juga akan menjadi Wakil Ketua Asian Shipowners’ Association (ASA).
“Ini menjadi kesempatan bagi INSA untuk memperluas pengaruhnya di tingkat internasional, termasuk negara Asia dan negara-negara lainnya,” pungkas Carmelita.[rea]






