Mimika (beritajatim.com) – Pukul 07.15 wit rombongan kami meninggalkan Tembagapura, pusat eksplorasi tambang tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI). Seperti biasanya kami turun menggunakan bus warna oranye menuju ke Kota Kuala Kencana Mimika, Papua Tengah.
Guest House karyawan PTFI banyak meninggalkan kisah kenangan, selama dua hari menginap disana. Cuaca yang terus mendung dengan suhu dikisaran 20 derajat celsius bisa menjadi cerita tersendiri sebelum balik ke Kota Gresik.
Setelah menunggu 17 menit, bus oranye akhirnya tiba. Selanjutnya, membawa kami turun menuju ke Kuala Kencana yang diperkirakan membutuhkan sekitar 2,5 jam dari Tembagapura.
Melalui jalan yang berkelok naik turun serta diselingi hujan rintik-rintik. Kami tiba di Kuala Kencana pukul 10.30 wit. Kota ini merupakan kota buatan yang dibangun di masa pemerintah orde baru oleh Presiden Suharto tahun 1995 dengan luas 17 ribu hektar. Ada beberapa fasilitas pelayanan umum seperti sekolah, rumah sakit, tempat ibadah dan lain-lain. Konon kota ini menjadi percontohan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Senior Officer Visitor Support PTFI Meliana Mitapo mengatakan, Kuala Kencana merupakan kota buatan di tengah hutan yang dikhususkan bagi karyawan PTFI menengah keatas yang bekerja di Tembagapura.
“Disini semua sekolah mulai SD hingga SMA gratis. Bahkan, diberi fasilitas pendukung seperti buku-buku maupun lainnya,” ujarnya, Kamis (12/10/2023).
Kakak Meli sapaan akrabnya dengan ramah menceritakan Kota Kuala Kencana yang menjadi ikon Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Perempuan asli Papua itu, langsung mengajak berkeliling sambil mengendarai mobil Ford Everest nopol PA 1653 ME warna putih. Dirinya dengan cekatan menjelaskan setiap sudut Kota Kuala Kencana yang mirip seperti di luar negeri. Dimana, 73 rumah yang dihuni diberi fasilitas yang memadai.
“Disini kita mengemudi mobil ada aturannya, dan tidak ngebut. Sebab, setiap mobil yang digunakan ada semacam GPS yang mencatat kecepatan. Bila melanggar melebihi batas yang ditentukan 40 kilometer per jam ada teguran by email,” katanya.
Usai puas berkeliling, kami diajak ke Alun-Alun Kota Kuala Kencana melihat dari dekat
Patung Mbitoro merupakan kesenian masyarakat Kamoro, salah satu suku pemilik hak ulaya di Kabupaten Mimika
Patung Mbitoro dibuat dari batang dan akar pohon bakau (satu pohon utuh). Setelah ditebang dan dahan-dahannya dilepas, semua akar penopang dipotong dan hanya menyisakan satu akar yang akan diukir.
“Kamoro sendiri, budaya mematung ini sebenarnya budaya yang turun temurun. Tapi tidak semua orang Kamoro bisa mematung dan tidak semua kampung Kamoro bisa mematung. Ha inilah yang menjadi konsen dari PTFI untuk terus menjaga kelestarian budaya,” ungkap Meli.
Sementara itu, Galih Wicaksono salah satu jurnalis asal Kabupaten Gresik yang ikut trip ke Tembagapura lalu ke Kuala Kencana takjub dengan lingkungan kota buatan ini. “Semua serba teratur mirip di negara lain. Tidak hanya lingkungan asri, pengemudi mobil pun harus mematuhi rambu lalu lintas,” katanya. [dny/kun]
BACA JUGA: Blusukan Melihat Freeport Papua dan Sensasi Naik Bus Anti Peluru






