Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak dua juta penduduk Indonesia diprediksi akan mengidap demensia alias pikun pada tahun 2030. Jumlah ini bahkan akan terus meningkat setiap tahunnya.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya) dr Valentinus Besin menjelaskan, demensia adalah sekumpulan gejala kemunduran fungsi kognitif yang menyebabkan terganggunya aktifitas hidup dan interaksi sosialnya.
Kata dia, banyak orang menganggap semua demensia adalah demensia alzheimer. Padahal, demensia memiliki banyak jenis. Ada demensia vaskular, penyakit parkinson, lewy body, frontotemporal, bahkan tipe campuran.
“Alzheimer merupakan salah satu demensia, namun tidak semua orang yang mengalami demensia adalah demensia alzheimer,” ujar dr Valen, Jumat (29/9/2023).
Ia menjelaskan, gejala demensia tidak hanya gangguan memori atau pikun saja. Terganggunya fungsi kognitif juga meliputi sulitnya berkonsentrasi, berbahasa, dan lain-lain yang tahapnya sudah mengganggu aktivitas hidup dan interaksi sosial.
BACA JUGA: BPJS Kesehatan Kediri Resmikan Loket Pelayanan Informasi di RSUD Kilisuci
Bahkan, kata dokter spesialis neurologi itu, hal tersebut juga bisa berlanjut ke tahap Behavioral dan Psychological Symptoms of Dementia (BPSD). Gejalanya sampai halusinasi, marah, teriak, dan gelisah.
Menurutnya, demensia bisa disebabkan oleh faktor genetik yang tidak dapat dimodifikasi. Namun ada pula faktor yang bisa berpotensi untuk dimodifikasi, seperti trauma kepala, gangguan pendengaran, penyakit kencing manis, atau sejumlah faktor risiko lainnya.
Hal ini yang membuat demensia tidak hanya terjadi pada orang usia lebih dari 65 tahun, namun juga bisa dialami pada orang usia muda.
“Penelitian obat-obatan sudah banyak dikembangkan untuk terapi demensia. Tapi lebih baik mencegah sejak dini,” ujarnya.
Valen mengungkapkan, adapun pencegahannya bisa mulai dilakukan sejak muda. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan yakni memiliki gaya hidup sehat dan mengobati sejumlah penyakit secara dini.
BACA JUGA: Wagub Emil: Santri Harus Jadi Trend Setter di Era Disrupsi
“Untuk remaja dan kawula muda, ayo capai ilmu setingi-tingginya dan belajar bahasa bilingual. Untuk dewasa muda jangan merokok, deteksi dan obati penyakit seperti kencing manis, tekanan darah tinggi, dan lainnya. Sedangkan untuk lansia, jangan lupa deteksi dini gangguan pendengaran ke dokter spesialis THT,” imbuhnya.
Jika memiliki keluarga atau kerabat yang menunjukkan gejala demensia, dr Valen mengimbau masyarakat agar tidak melakukan diagnosa sendiri. Bisa segera berkonsultasi dengan dokter spesialis neurologi.
Nantinya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan kognitif, dan pemeriksaan penunjang untuk menduga jenis demensia apa yang dialami pasien dan pemberian terapi yang tepat. [ipl/nap]






