Lamongan (beritajatim.com) – Situs Gunung Ratu yang berada di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan kerap diinterpretasikan sebagai makam Ibunda Gajah Mada, yang biasa disebut Dewi Andongsari.
Menanggapi hal ini, Arkeolog di Museum dan Cagar Budaya, Wicaksono Dwi Nugrogho akhirnya angkat bicara. Dia menyebut bahwa hingga kini belum ditemukan sumber sejarah yang dapat dijadikan dasar keterkaitan Situs Gunung Ratu dengan Gajah Mada.
“Belum ditemukan sumber sejarah yang dapat dijadikan dasar. Justru, interpretasi itu lebih dekat ke jejak pemukiman kuno dari masa Airlangga – Majapahit,” ungkap Wicaksono Dwi Nugroho, dalam kegiatan sarasehan sejarah Gajah Mada di Pendopo Lokatantra Lamongan, ditulis Kamis (6/7/2023).
Arkeolog dari Universitas Negeri Malang ini juga menjelaskan bahwa Dewi Andongsari kerap dikaitkan dengan Ratu Tribuaneswari, anak Raja Kertanegara dan permaisuri dari Raden Wijaya Sri Kertaredjasa Jayawerdana, sebagai Ibunda Gajah Mada.
Padahal, menurut Wicak, nama Dewi Andongsari merupakan tokoh dalam cerita ludruk dan tidak ditemukan dalam naskah sejarah. Apakah nama Dewi Andongsari ini hanya produk dari cerita rakyat atau folklore?
“Nama tokoh, dewi, atau ratu Andongsari ini tidak ditemukan dalam naskah sejarah. Toponim Andongsari ada di Jember,” tandasnya.
BACA JUGA:
Diawali Makam Ibunda Gajah Mada, Lamongan Mulai Bangun Situs Sejarah dan Cagar Budaya
Tak cukup itu, Wicak juga mempertanyakan, bila Dewi Andongsari yang merupakan Ibunda Gajah Mada ini adalah anak Raja Kertanegara dan permaisuri dari Raden Wijaya Sri Kertaredjasa Jayawerdana, maka di mana posisi Andongsari dalam genealogi Majapahit?
“Kalau seperti itu, mengapa Gajah Mada tidak jadi raja atau minimal jadi Bhre (raja daerah atau gubernur)? Apakah Gajah Mada adalah saudara tiri Jayanegara? Apakah Gajah Mada saudara tiri Tribhuwana Tunggadewi? Apakah Gajah Mada kakek dari Hayam Wuruk?,” tanyanya.
Lebih lanjut terkait tinggalan arkeologis, tutur Wicak, makam yang dikaitkan dengan Dewi Andongsari itu juga perlu dilakukan kajian sejarah yang lebih mendalam lagi.
Dituturkan Wicak, Majapahit adalah kerajaan yang menganut Siwa-Buddha, sedangkan makam adalah tradisi Islam. Apalagi, makam itu membujur arah Barat – Timur.

Soal temuan tinggalan arkeologis, berupa batu bata, porcelain, tembikar dan koin kepeng kuno, sambung Wicak, pihak Disparbud Lamongan dan BPCB (BPK) telah meninjau ke lokasi pada tanggal 27-28 Januari 2021 lalu.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, temuan batu bata yang tersingkap di lokasi itu rata-rata berbentuk fragmen, yang terkosentrasi pada sisi utara dan selatan Gunung Ratu. Sebagian batu bata itu ditata ulang oleh penduduk hingga menyerupai punden dan menyerupai undak-undakan untuk menahan longsoran tanah.
Ukuran sample batu bata itu itu memiliki panjang sekitar 27-29 cm, lebar 20-22 cm dan tebal 5-7 cm. “Lalu tidak jauh dari lokasi makam (masih satu desa), keberadaan Prasasti Sendangrejo (Pasar Legi) yang dikaitkan pun sudah jelas merupakan prasasti yang berasal dari masa Airlangga (abad 11 masehi),” bebernya.
“Sesuai aksara berbahasa Jawa Kuno di prasasti yang menyebut nama Airlangga, nama i hino sri Sanggrama-wijaya dan memuat angka tahun 965 saka atau 1043 masehi,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Lamongan Gelar Nyadran di Makam Dewi Andongsari, Ibunda Maha Patih Gajah Mada
Kendati demikian, Wicak mengatakan bahwa pihaknya sangat menghormati adanya cerita rakyat yang mengaitkan situs Gunung Ratu sebagai makam Dewi Andongsari yang merupakan Ibunda dari Mahapatih Gajah Mada.
“Situs Gunung Ratu adalah cagar budaya berupa situs dan mungkin juga kawasan yang menyimpan jejak pemukiman kuno dari masa Airlangga hingga Majapahit dalam wilayah yang cukup luas. Terkait interprestasi di masyarakat saat ini, tidak ada yang salah dengan keyakinan atau cerita rakyat itu,” tuturnya.
“Akan tetapi perlu segera dilakukan kajian sejarah dan arekeologis lebih mendalam untuk mencari bukti adanya keterkaitan antara situs Gunung Ratu dengan tokoh Gajah Mada. Sehingga di kemudian hari ada pembeda dan pembanding yang jelas antara keyakinan, cerita dan atau sejarah,” pungkasnya. [riq/suf]






