Mojokerto (beritajatim.com) – Job Fair yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto bisa menekan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Mojokerto. Job Fair di Basement Mal Pelayanan Publik (MPP) Gajah Mada tersebut diikuti 30 perusahaan.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan penyelenggaraan Job Fair rangkaian Hari Jadi ke-105 Kota Mojokerto ini untuk memfasilitasi antara pemberi kerja dengan perusahaan. Kegiatan Job Fair juga sebagai upaya Pemda untuk menekan angka TPT di Kota Mojokerto.
“Dalam dua tahun terakhir ini kita berupaya bagaimana bersama-sama memfasilitasi, semoga ikhtiar ini bisa menurunkan angka pengangguran di Koya Mojokerto. Data rilis dari Badan Pusat Statistik, jumlah TPT di Kota Mojokerto 5,05 persen atau sekitar 3.600 orang di akhir tahun 2022 lalu,” ungkapnya, Rabu (28/6/2023)
Memang angka TPT sempat mengalami peningkatan jika dibandingkan sebelum terjadi Pandemi Covid-19. Sedangkan, peningkatan TPT tertinggi tahun 2020-2021 ketika awal terjadinya Pandemi. Jika dibandingkan dengan data BPS 2022 itu sudah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Baca Juga: 78 Persen Pencari Kerja di Job Fair dari Luar Kota Mojokerto
“Di tahun 2023 ini, kita ikhtiar bersama agar tingkat pengangguran terbuka bisa turun dibawah lima persen. Semoga melakukan ikhtiar ini (Job Fair) bisa menurunkan tingkat pengangguran. Dari 304 peserta pelatihan sebelumnya, Alhamdulillah data terlaporkan sampai tahun 2023 ini sudah 70 persen mendapat pekerjaan,” katanya.
Menurutnya, upaya menurunkan TPT dilakukan Pemkot Mojokerto dengan menggelar pelatihan kerja berkolaborasi dengan Provinsi Jawa Timur selama dua tahun berturut-turut. Dari kuota 304 peserta tersebut, peserta mengikuti pelatihan berbasis kompetensi dengan kelulusan bersertifikat standar Nasional.
“Dan tahun ini kami memfasilitasi dengan kuota yang lebih tinggi, kita tingkatkan kuota menjadi 480 peserta dengan 30 jenis pelatihan dengan BLK Jatim. Ada fenomena di Kota Mojokerto dengan adanya fenomena event-event berdampak sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan Kota Mojokerto menjadi kota wisata sejarah dan budaya,” ujarnya.
Baca Juga: Khofifah Mau PPSLB3 Mojokerto Solusi Limbah B3 Jatim
Banyak angkatan kerja yang memilih untuk menjadi tukang parkir. Alasannya mereka menjadi tukang parkir terkait penghasilan yang sangat fantastis bahkan melebihi pekerja kantoran dan pengusaha. Pekerjaan non formal dipilih lantaran tidak membutuhkan melamar dan ijazah.
“Pekerjaan non formal dipilih karena tidak butuh melamar, ijazah, tidak mengeluarkan pikiran berlebih tapi dapat jauh lebih besar dibandingkan bekerja formal seperti yang sedang antre melamar pekerjaan. Ini akan menjadi rujukan kami ke BPS ketika melakukan sensus dan survei,” tegasnya.
Bahwa, lanjut orang nomor satu di lingkup Pemkab Mojokerto ini, pekerjaan non formal harus diakui karena bukan pengangguran. Menurutnya, tidak ada status namun faktanya penghasilan mereka jauh lebih besar daripada pekerja formal. [tin/ted]






