Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dengan mengukuhkan lima profesor baru dari berbagai bidang keilmuan pada Rabu (28/5/2025) di Gedung Samantha Krida. Pengukuhan ini menambah daftar panjang ilmuwan UB yang berkontribusi aktif menjawab tantangan pembangunan nasional.
Salah satu profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dwi Budi Santoso, S.E., M.S., Ph.D., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), sebagai profesor dalam bidang Ekonomi Regional. Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dwi mengangkat urgensi percepatan pertumbuhan ekonomi daerah di tengah target besar pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025 – 2045.
“Target pertumbuhan pendapatan per kapita hingga 30 ribu USD di tahun 2045 menuntut setiap provinsi, termasuk Jawa Timur, untuk melakukan percepatan ekonomi yang tidak hanya cepat, tetapi juga merata,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Prof. Dwi mengembangkan model pemetaan Klub Konvergensi Ganda (KKnDa). Ia menjelaskan bahwa model ini bisa memberikan informasi yang lebih komprehensif bagi perencana daerah, terutama dalam menyusun kebijakan berbasis karakteristik pertumbuhan pendapatan dan investasi per kapita.
“Berbeda dengan model konvensional yang hanya mengandalkan satu indikator, KKnDa memberikan hasil analisis yang lebih luas dan kontekstual untuk perencanaan ekonomi regional,” jelasnya saat jumpa pers Jumat (23/5/2025).
Dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Nia Kurniawan, S.Si., M.P., D.Sc. dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Taksonomi Vertebrata. Ia menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya ancaman kepunahan terhadap vertebrata endemik Indonesia, yang menempati posisi kedua terbanyak di dunia setelah wilayah Pegunungan Andes dan Mesoamerika.
“Taksonomi vertebrata bukan sekadar klasifikasi ilmiah. Ia adalah dasar bagi kebijakan konservasi yang efektif dan berkelanjutan,” kata Prof. Nia.
Sebagai bentuk kontribusi ilmiahnya, ia memperkenalkan model TAXVERTREE, sebuah pendekatan taksonomi integratif yang menggabungkan analisis morfologi, verifikasi genetik, dan pohon filogenetik. Model ini, menurut Prof. Nia, dapat meningkatkan akurasi dalam identifikasi spesies, termasuk mendeteksi spesies kembar, serta membantu menentukan prioritas konservasi berdasarkan kedekatan evolusioner.
Kontribusi di bidang kelautan juga disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Daduk Setyohadi, M.P. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Dalam pengukuhannya sebagai profesor Ilmu Dinamika Populasi Ikan, Prof. Daduk menyoroti kondisi memprihatinkan dari perikanan lemuru di Selat Bali yang terus mengalami penurunan sejak 2010.
“Penangkapan berlebihan dan tidak selektif menyebabkan banyak ikan belum sempat berkembang biak sudah tertangkap. Ini ancaman nyata bagi kelestarian perikanan kita,” tegasnya.
Sebagai solusinya, ia mengembangkan Teknologi Sertifikasi Perikanan Lemuru Berkelanjutan Selat Bali (TSPLB-UB), sistem sertifikasi lokal yang lebih sederhana dan sesuai kondisi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa hanya dengan enam indikator utama, sistem ini tetap mampu memastikan keberlanjutan sumber daya dan dapat dilakukan lebih cepat dibanding sertifikasi global.
Masih dari FPIK, Prof. Dr. Ir. Gatut Bintoro, M.Sc. dikukuhkan sebagai profesor Ilmu Manajemen Sumber Daya Perikanan Tangkap. Ia memperkenalkan model PREES-UB, yaitu sistem pengelolaan perikanan yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.
“Kita tak bisa hanya berfokus pada hasil jangka pendek. Pengelolaan perikanan harus mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya dalam jangka panjang,” katanya dalam orasi ilmiahnya.
Model PREES-UB mengedepankan keterlibatan aktif masyarakat pesisir, pelestarian ekosistem laut, serta digitalisasi pemantauan sumber daya perikanan. Prof. Gatut menyebutkan, kolaborasi lintas sektor dan penguatan teknologi menjadi kunci keberhasilan implementasi model ini, meskipun ia mengakui masih terdapat tantangan seperti keterbatasan data ilmiah dan resistensi terhadap regulasi.
Sementara itu, Prof. Dr. Eng. Masruroh, S.Si., M.Si., dari FMIPA, dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Material dan Permukaan. Ia membahas pentingnya teknologi lapisan tipis dalam pengembangan sensor untuk kesehatan dan lingkungan.
“Lapisan tipis memungkinkan sensor menjadi lebih kecil, lebih sensitif, dan lebih fleksibel,” terang Prof. Masruroh. Ia menambahkan bahwa teknologi ini bisa diaplikasikan untuk mendeteksi berbagai bioaerosol, gas berbahaya, hingga senyawa organik volatile, dengan efisiensi material yang tinggi.
Menurutnya, teknologi ini tidak hanya menggantikan lapisan tebal yang kurang fleksibel, tetapi juga membuka peluang desain sensor dengan fungsi unik yang mampu meningkatkan interaksi antara material dan materi target.
Kelima profesor ini menambah jumlah profesor aktif di UB menjadi 255 dan total 433 profesor yang telah dihasilkan sepanjang sejarah universitas tersebut. Pengukuhan ini sekaligus mencerminkan komitmen UB dalam menghadirkan solusi konkret atas berbagai isu strategis di Indonesia melalui riset-riset inovatif. (dan/but)






