Jakarta (beritajatim.com) – Tahun 2024 resmi tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, menurut laporan Badan Meteorologi Dunia (WMO). Peningkatan suhu ekstrem ini memicu berbagai cuaca ekstrem yang merusak kehidupan, mata pencaharian, dan lingkungan di banyak negara.
“Kami menyaksikan suhu permukaan daratan dan laut yang luar biasa, serta panas laut ekstrem yang disertai cuaca sangat ekstrem,” ujar Clare Nullis, juru bicara WMO.
Ia juga mencatat dampak perubahan iklim yang terlihat jelas, seperti mencairnya es laut dan gletser. Disampaikan, empat dari enam dataset internasional yang dianalisis WMO menunjukkan bahwa rata-rata suhu global pada 2024 naik melebihi 1,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat pra-industri.
Meskipun dua dataset lainnya belum mencapai angka ini, temuan tersebut menjadi pengingat akan pentingnya batas suhu yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015.
Perjanjian Paris bertujuan menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celsius, dengan upaya maksimal agar tidak melampaui 1,5 derajat Celsius. Namun, peningkatan suhu pada 2024 mengancam tujuan ini.
Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan
Cuaca ekstrem juga memperburuk kebakaran hutan di Los Angeles, dengan kondisi angin kering dan hangat yang dipicu oleh curah hujan tinggi sebelumnya. Kebakaran ini menjadi bukti nyata dampak perubahan iklim, menurut WMO.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan tindakan lebih cepat untuk menghadapi krisis iklim. “Tahun-tahun seperti 2024 menunjukkan bahwa kita harus berjuang lebih keras. Pemimpin dunia harus bertindak sekarang untuk mencegah bencana iklim yang lebih buruk,” tegasnya.
Lautan yang Semakin Panas
WMO juga menyoroti pemanasan laut sebagai faktor utama di balik rekor suhu global tahun lalu. “Lautan mencatat suhu terpanas yang pernah ada, baik di permukaan maupun hingga kedalaman 2.000 meter,” ungkap WMO, mengutip studi internasional yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences.
Studi tersebut menunjukkan bahwa dari 2023 hingga 2024, lapisan atas laut menyimpan 16 zettajoule energi panas tambahan, setara dengan 140 kali total output listrik dunia. Dengan sekitar 90 persen panas dari pemanasan global tersimpan di lautan, ini menjadi indikator penting perubahan iklim.
Tindakan Global Sangat Mendesak
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menegaskan bahwa setiap kenaikan suhu, sekecil apa pun, berdampak besar pada kehidupan manusia dan ekonomi.
“Sejarah iklim sedang terungkap di depan mata kita. Setiap tambahan derajat pemanasan membawa dampak lebih besar bagi planet ini,” ujarnya.
Para pemimpin dunia didesak untuk segera memperbarui rencana aksi iklim nasional pada 2025 guna memastikan kenaikan suhu global tetap terkendali. (hdl)






