Semoga saja Albania juara Eropa. Seumur-umur, tim sepak bola nasional Albania adalah underdog di Eropa. Sejak Piala Eropa Antarnegara digelar pada 1960, selain tahun ini, mereka baru lolos kualifikasi pada 2016. Itu pun delapan tahun silam mereka terhenti di fase grup.
Undian Piala Eropa 2024 menempatkan Albania di Grup B bersama Italia, Spanyol, dan Kroasia. Tidak ada yang memperhitungkan mereka, bahkan mungkin rakyat Albania sendiri. Italia juara bertahan. Spanyol merebut trofi Eropa tiga kali. Kroasia lolos ke fase 16 Besar pada empat tahun silam.
Namun orang menyukai kejutan dalam sepak bola. Daud melawan Goliath. Si lemah melawan si kuat. Dunia menyukai perlawanan terhadap dominasi, termasuk dalam sepak bola. Dan Albania bukannya tak menyediakan kemungkinan untuk memberikan kejutan.
Kemenangan 2-0 atas Polandia dan 3-0 atas Republik Ceko sudah cukup menunjukkan apa yang bisa dilakukan anak-anak asuhan Sylvinho itu. Sylvinho menggunakan formasi 4-2-3-1 dan mengandalkan pertahanan yang rapat serta transisi cepat untuk menghantam lawan.
Albania adalah sebuah negeri muslim di tengah Eropa. Pengaruh Kesultanan Ottoman membuat 96 persen warga negeri ini menjadi pengikut Nabi Muhammad. Namun sepak bola yang merepresentasikan takdir politik Albania justru diperkenalkan seorang pendeta yesuit, Gut Ruter, yang mendirikan Independenca. Inilah klub sepak bola pertama di Kota Skhodra pada 1912. Sejak saat itu, sepak bola berkembang di kota-kota Albania lainnya seperti Elbasan, Tirana, Korçë, dan Delvinë hingga 1930-an.
Sepak bola Italia banyak mempengaruhi Albania. Sejumlah pemain sepak bola negeri itu bermain di sejumlah klub sepak bola Italia seperti Juventus dan AS Roma. Dari aspek politik, rezim Zogist belajar dari rezim Benito Mussolini yang memanfaatkan sepak bola untuk propaganda. Pemerintah Albania mendatangkan sejumlah ahli dari Italia untuk membantu pengembangan olahraga, terutama sepak bola.
Juni 1930, federasi sepak bola Albania Federata Shqiptare e Futbollit (FSHF) resmi berdiri dan bergabung dengan FIFA dua tahun berikutnya. Albania sempat diundang menjadi peserta Piala Dunia 1934 di Italia dan 1938 di Prancis.
Perang Dunia II tidak menghentikan sepak bola di Italia, dan sejumlah pemain Albania tetap bermain di sana kendati negerinya diinvasi Benito Mussolini. Namun kekalahan Mussolini dalam Perang Dunia II membuat Albania dikuasai rezim komunis Joseph Stalin. Seperti halnya di negara-negara komunis, sepak bola dijadikan alat propaganda ideologi dan pemerintah.
Nama dan keanggotaan klub sepak bola di Albania dimanipulasi untuk dikuasai lembaga-lembaga represi negara. Partizani Tirana dikuasai tentara. Dinamo Tirana dikuasai polisi rahasia. Kedua tim ini puluhan tahun mendominasi sepak bola Albania, karena bisa merekrut paksa pemain-pemain terbaik.
Setelah Tembok Berlin runtuh dan komunisme bangkrut pada era 1990-an, para pelaku sepak bola di Albania mengembalikan nama klub-klub sebagaimana semula. Komersialisasi dan kapitalisme industri sepak bola masuk di tengah merebaknya korupsi dan iklim ekonomi yang tak stabil.
Sementara itu di luar negeri, sepak bola menjadi ruang pertarungan eksistensi politik bagi orang-orang Albania yang bermigrasi ke sejumlah negara Eropa. Seringkali pertandingan sepak bola diwarnai dengan sentimen politik, sebagaimana di Yunani pada 2004.
Kekalahan Yunani di Tirana, Albania, dalam kualifikasi Piala Dunia memicu kerusuhan. Seorang imigran Albania terbunuh. Setahun berikutnya, pertandingan tim yunior Yunani dan Albania di Athena sempat terhenti, setelah pendukung Yunani merobek bendera nasional lawan. Pemerintah Yunani cenderung mendiamkan kejadian ini. “Kami tidak menjual tiket pertandingan ke orang Albania, cuma ke orang Yunani,” katanya.
Pertandingan sepak bola antara Serbia melawan Italia di Genoa diwarnai aksi perobekan bendera Albania oleh pendukung Serbia. Para pendukung Serbia juga meneriakkan kalimat rasis berkali-kali: ‘Bunuh Shipatar!’
Albania dan Serbia terlibat konflik politik menyusul pendudukan Serbia terhadap Kosovo yang dihuni mayoritas orang Albania. Kelompok ultra nasionalis Serbia memang menginginkan pembentukan Serbia Raya setelah Yugoslavia runtuh, dan itu berarti Kosovo ada di dalamnya.
Kebencian terhadap Albania ditunjukkan pendukung sepak bola Serbia saat pertandingan kualifikasi Piala Eropa, Oktober 2015. Teriakan ‘Bunuh Albania’ yang diikuti dengan lemparan botol dan batu ke bangku cadangan tim nasional Albania memunculkan kengerian.
Sebuah drone entah dari mana mendadak muncul di stadion membawa bendera ‘Elang Berkepala Dua’ Albania dan turun ke lapangan. Pemain bertahan Serbia Stefan Mitrovic merampas bendera itu. Sejumlah pemain Albania bereaksi dan mencoba merebut kembali bendera tersebut.
Tak butuh waktu lama. Perkelahian terjadi. Ujung tombak Albania Bekim Balaj diserang seorang pendukung Serbia yang bersenjatakan kursi plastik saat hendak mengambil bendera itu dari lapangan. Perkelahian meluas, dan pertandingan pun dibatalkan.
Selanjutnya adalah episode politik. Federasi sepak bola Serbia dan menteri luar negeri mereka menyalahkan menteri luar negeri Albania yang menghadiri pertandingan tersebut.
Pemain-pemain diaspora Kosovo-Albania memahami sepak bola adalah tempat untuk menyampaikan pesan politik. Saat Swiss mengalahkan Serbia 2-1 dalam pertandingan Grup D Piala Dunia 2018 di Rusia, Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, dua pemain Swiss keturunan Albania, merayakannya dengan simbol tangan yang menunjukkan logo elang berkepala dua.
Tahun ini, Italia dan Serbia yang memiliki keterkaitan politik dengan Albania hadir dalam Piala Eropa di Jerman. Takdir mempertemukan Albania dengan Italia di Grup B. Sementara Serbia berada di Grup C bersama Inggris, Denmark, dan Slovenia. Agak susah bagi Albania untuk melewati Italia, lolos dari Grup B untuk kemudian bertemu Serbia dalam sebuah ‘perang sepak bola’ dengan arti sebenarnya. Namun demi sebuah perjuangan atas identitas politik sebuah bangsa, saya berharap Albania bisa jadi juara Eropa. [wir]






