Malang (beritajatim.com) – Natal tahun ini menjadi duka bagi keluarga Vincensius Sari (43), warga Dusun Ngrejo, Desa Kluwut, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Vincen tak mengira, malam perayaan Natal tahun 2022 ini, tanpa di hadiri putra sulungnya Yohanes Revano Prasetyo (15).
Revano telah pergi selamanya. Remaja yang hobi sepakbola itu, meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan, Sabtu 1 Oktober 2022 malam. Jelang Ibadah Misa Natal, biasanya Revano lah yang kerap menghias pohon natal di ruang tamu rumahnya. Pernak pernik hiasan Natal, bunga-bunga, selalu di siapkan mendiang Revano.
Namun, Tragedi Kanjuruhan membuyarkan impian Vincensius. Putra tertuanya harus pergi selama-lamanya ketika menonton pertandingan Arema FC Melawan Persebaya Surabaya. “Semoga mas Revano di tempatkan Tuhan di Surga. Saya yakin itu,” kata Vincensius Sari, Sabtu (24/12/2022) sore di rumahnya Dusun Ngrejo, Desa Kluwut, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Menurut Vincen, putranya adalah sulung dari tiga bersaudara. Semuanya laki-laki. Revano sudah mencintai sepakbola sejak umur tiga tahun. Ia kerap diajak Vincen menonton langsung laga kandang Arema di Stadion Kanjuruhan. Ketika kelas IV Sekolah Dasar, Revano sudah masuk klub sekolah sepakbola. Paranane adalah Klub Sepakbola yang diikuti Revano hingga akhir hayatnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Ketika Tragedi Kanjuruhan terjadi, Revano berangkat ke Stadion bersama dua orang sahabatnya. Satu sahabatnya turut menjadi korban jiwa. Gabriel namanya. Foto Gabriel dan Revano bermain sepakbola, kini terpajang di kamar pribadi Revano. “Itu foto Gabriel bareng Revano. Mereka berdua sahabat sehidup semati. Andai salah satu masih hidup, saya menyakini akan menjadi pemain sepakbola yang hebat,” tutur Vincen sembari menahan isak tangis.
Revano adalah pelajar SMKN 1 Kepanjen Kelas 1. Bergabung dengan SSB Paranane U-15 dan U-16, kehadiran Revano di Stadion Kanjuruhan sebelum malam tragedi itu, dalam rangka mempersiapkan mental dan skema pertandingan jelang proyeksi Piala Suratin.
Selama menonton langsung laga Arema, Revano dan Vincen selalu duduk di tribun 13 dan tribun 14. “Kami satu keluarga ini sering nonton di tribun 13 dan 14, karena itu tribun paling aman untuk keluarga. Tapi kok kemudian ditembakkan gas air mata ke arah sana, saya juga heran,” beber Vincen.
Vincen menegaskan, hari-hari ini adalah hari paling berat bagi diri dan keluarganya. “Yang harusnya kami bisa merayakan natal bersama, bahagia bersama, tapi hari ini kami rayakan dengan penuh kesedihan. Kami mempersiapkan Natal apa adanya. Kami harus benar-benar menata hati. Karena ini moment berat bagi kami, kehilangan anak kami yang selalu mempersiapkan malam natal dengan baik. Tapi hari ini tidak ada lagi,” ujar Vincen.
Dimata Vincen, mendiang putranya adalah pribadi yang periang. Revano juga aktif sebagai Pemuda Gereja di Gereja Santo Jusup Desa Kluwut, Wonosari.
“Mas Revan adalah pemuda gereja yang sangat aktif di tempat kami. Dalam merayakan natal sangat aktif, lima hari sebelumnya pasti rumah kami sudah dihias dengan bunga-bunga natal. Dan itulah yang membedakan kami saat ini. Kami nggak bisa berbuat apa apa, kami hanya fokus untuk doa, semoga di natal ini mas Revano merayakan natal di surga bersama para Kudus dan mendoakan kami yang masih berada di dunia ini,” ucap Vincen dengan mata berkaca-kaca.
Vincen mengaku, ia berharap dengan kejadian ini iman dalam dirinya semakin baik. Mendalami arti cinta kasih sesungguhnya. Karena manusia adalah debu ciptaannya dan apabila tuhan berkehendak, semuanya bisa terjadi.
“Kami masih berharap sebrutal-brutalnya manusia menembakkan gas air mata, masih memiliki hati nurani dan kasih, masih punya etika kemanusiaan. Kalau mau disebut manusia, mereka harus utuh. Punya hati nurani, punya Budi pekerti dan akhlak yang baik. Kalau gak mau disebut manusia itu, namanya binatang yang tak punya hati nurani,” tegasnya.
Masih kata Vincen, orang yang beriman pasti lebih memanusiakan manusia. “Yang salah pasti dihukum, sedikit apapun kesalahan pasti ada balasannya, kalau cuci tangan dan tidak mengakui kesalahannya apakah pantas disebut manusia,” pungkas Vincen. [yog/suf]







