Malang (beritajatim.com) – Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) atau sekarang telah bertransformasi menjadi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) sukses mempertahankan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB). Capaian ini secara konsisten dijaga sejak tahun 2019.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa implementasi Zona Integritas (ZI) di lingkungan kampus merupakan komitmen permanen untuk mendukung visi pembangunan nasional.
“Zona Integritas melampaui angka-angka di atas kertas. Ini adalah langkah berkelanjutan untuk merawat kepercayaan masyarakat. Kami memastikan tata kelola anggaran di UB bertransformasi menjadi pelayanan publik yang berkualitas dan berorientasi hasil,” ujar Prof. Widodo saat jumpa media di Ruang Rapat Lantai 6 Rektorat UB, Malang, Jumat (13/2/2026).
Prof. Widodo menjelaskan bahwa keberhasilan FTAB mempertahankan predikat tertinggi selama lima tahun berturut-turut adalah bukti nyata perubahan budaya kerja. Menurutnya, standar WBBM menandakan bahwa fakultas tidak hanya bebas dari korupsi, tetapi juga memberikan standar pelayanan prima.
“Pimpinan di UB terus dimotivasi untuk melakukan pelayanan terbaik berdasarkan standar Menpan RB. Kami menyediakan fasilitas, pendanaan, tata kelola, hingga reward untuk mendorong manajemen yang transparan. Yang terpenting adalah membangun kultur melayani dan integritas,” tambahnya.
Senada dengan Rektor, Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP. M.App.Life.Sc., Ph.D., mengungkapkan rasa syukurnya atas awarding ini. FTP UB tercatat sebagai unit kerja pertama dan satu-satunya di bawah naungan kementerian terkait yang mampu meraih dan mempertahankan level ini.
“WBBM berarti sistem sudah berjalan dengan baik. Sebagai pimpinan, kami bisa ‘tidur nyenyak’ karena yakin semua urusan berjalan sesuai sistem, meminimalkan risiko di luar prosedur,” tutur Prof. Hendrawan.
Dalam laporannya kepada KemenPAN-RB, Prof. Hendrawan memaparkan tiga poin utama yang menjadi kunci sukses FTAB. Pertama, fakultas melakukan continuous improvement pada enam area perubahan, memastikan pelayanan publik tetap inklusif dan responsif.
Kedua, menciptakan ekosistem birokrasi melalui aplikasi terintegrasi untuk layanan persuratan, akademik, hingga keuangan guna menutup celah maladministrasi. Ketiga, peningkatan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang mencapai angka 98% (mendekati skala sempurna).

Efisiensi birokrasi juga meningkat drastis, di mana urusan administrasi yang dulunya memakan waktu harian, kini selesai dalam hitungan menit.
Terkait akses pendidikan, Prof. Widodo menekankan bahwa UB berkomitmen pada pendidikan inklusif. UB tidak hanya mengandalkan UKT mahasiswa, tetapi juga mengembangkan Dana Abadi Universitas dan optimalisasi unit bisnis (PT) milik kampus.
“Kami ingin siapa pun yang mampu secara akademik bisa masuk, baik yang kaya maupun yang kurang mampu. Dana abadi dan hasil perusahaan kampus digunakan untuk memberikan subsidi atau beasiswa bagi mahasiswa, mirip dengan skema KIP Kuliah,” jelas Rektor.
Sementara itu, Ketua Satuan Reformasi Birokrasi (RB) UB, Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, S.H., M.Hum., merinci enam area fokus yang menjadi tulang punggung transformasi di UB. Dimulai dari perubahan budaya dari konvensional ke digital.
Kedua, memprioritaskan efisiensi proses bisnis. Ketiga, pengembangan talenta berbasis kinerja.
Keempat, penyelarasan target kerja dari level rektor hingga staf.
Selain itu, juga mendorong pengendalian gratifikasi dan ketertiban pelaporan LHKPN/LHKASN. Kemudian melakukan Sentralisasi layanan melalui Pusat Layanan Terpadu (PLT).
“Kami ingin menjadi trendsetter, bukan sekadar pengikut. Transformasi digital yang bersih dan berreputasi internasional adalah harga mati bagi Universitas Brawijaya,” pungkas Dr. Ngesti. [dan/aje]






