Pasuruan (beritajatim.com) – Dinamika birokrasi di lingkungan Pemerintah Kota Pasuruan mendadak memanas setelah posisi strategis Sekretaris Daerah resmi dialihkan. Pejabat tertinggi di jajaran ASN tersebut kini harus menempati posisi baru yang dianggap banyak pihak sebagai bentuk penurunan peran dalam struktur pemerintahan.
Perombakan ini menjadi bagian dari mutasi besar-besaran yang menyasar ratusan aparatur di berbagai tingkatan dinas. Langkah berani ini pun memicu spekulasi mengenai stabilitas internal pemerintahan di tengah percepatan agenda pembangunan kota.
“Dinamika perubahan saat ini sangat cepat, sehingga semua tantangan harus direspons dengan sikap yang lebih adaptif,” ujar Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo. Pria yang akrab disapa Mas Adi tersebut menegaskan bahwa pergeseran posisi ini merupakan tuntutan agar organisasi bisa berlari lebih kencang.
Meskipun proses mutasi diklaim telah melalui uji kompetensi, publik tetap menyoroti drastisnya perpindahan tugas dari pemegang kebijakan administratif menjadi staf ahli. Proses yang melibatkan tim independen ini pun disebut-sebut sebagai bagian dari evaluasi mendalam terhadap kinerja pimpinan tinggi.
“Proses uji kompetensi pimpinan tinggi pratama ini sudah dilakukan oleh panitia seleksi independen dari luar pemkot,” tambah Mas Adi guna menepis isu negatif terkait prosedur pelantikan. Ia memastikan bahwa seluruh tahapan telah mendapatkan lampu hijau dari badan kepegawaian di tingkat pusat.
Ketidakpastian mengenai alasan mendasar di balik pencopotan jabatan sekda ini terus menjadi bahan perbincangan di Gedung Kesenian Darmoyudo. Para pengamat birokrasi menilai rotasi kali ini cukup kontroversial karena melibatkan tokoh sentral yang selama ini mengawal administrasi kota.
“Setiap ASN harus siap ditempatkan di mana saja karena ini adalah bagian dari penerapan sistem merit,” tegas Wali Kota di depan para pejabat yang dilantik. Beliau menekankan bahwa loyalitas dan kesiapan mengabdi di posisi mana pun adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar bagi seluruh abdi negara.
Kini, publik menunggu efektivitas dari wajah baru birokrasi hasil perombakan mendadak yang dipimpin oleh Mas Adi tersebut. Perubahan posisi ini diharapkan tidak mengganggu ritme pelayanan publik meski sempat memicu gejolak di lingkungan internal kantor wali kota. (ada/kun)





