Tuban (beritajatim.com) – Seorang wisatawan lansia berinisial S (67), warga Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, ditemukan meninggal dunia saat sedang berendam di kolam pemandian air hangat Nganget, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, pada Rabu (18/2/2026).
Korban diduga mengalami kondisi fisik yang melemah saat menjalani terapi air hangat untuk pemulihan penyakit stroke yang telah dideritanya selama tiga tahun terakhir.
Kasi Humas Polres Tuban, IPTU Siswanto, menjelaskan bahwa kejadian bermula ketika korban bersama anaknya, EL (45), berangkat dari rumah menuju lokasi wisata milik Perhutani tersebut untuk tujuan pengobatan. Rombongan keluarga ini tiba di lokasi pemandian air hangat Nganget sekitar pukul 16.15 WIB dan langsung menuju area kolam.
“Kemudian, pukul 16.15 Wib rombongan keluarga ini tiba di pemandian wisata Perhutani air hangat Nganget,” ujar IPTU Siswanto pada Rabu (18/02/2026).
Setelah tiba, korban S mulai berendam di kolam air hangat bersama pengunjung lainnya. Namun, baru berselang sekitar 15 menit berada di dalam air, saksi di lokasi melihat adanya keanehan pada kondisi fisik korban yang secara mendadak kehilangan kesadaran.
“Korban tiba-tiba keadaannya lemas dengan posisi kepala menunduk,” imbuh IPTU Siswanto menggambarkan situasi di dalam kolam.
Melihat kondisi tersebut, Sunarto, seorang tukang pijat yang sedang bertugas di area kolam, segera memberikan pertolongan dengan mengangkat tubuh korban ke permukaan. Sayangnya, saat berhasil dievakuasi dari dalam air, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dan koordinasi dengan pihak keluarga, korban dipastikan memiliki riwayat medis yang berat. Pihak keluarga juga telah menerima kejadian ini sebagai musibah murni tanpa adanya unsur kekerasan.
“Berdasarkan keterangan dari anak korban, memang korban ini mempunyai riwayat penyakit stroke kurang lebih sudah 3 tahun,” jelas Siswanto.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat, khususnya wisatawan yang memiliki riwayat penyakit tertentu, agar lebih berhati-hati dan mempertimbangkan kondisi fisik sebelum memutuskan untuk berendam di air panas.
IPTU Siswanto menekankan pentingnya persiapan fisik seperti asupan nutrisi yang cukup agar tubuh tidak mengalami syok saat terkena paparan suhu hangat.
“Memang mandi air hangat ini memberikan efek relaksasi yang bermanfaat. Namun, setiap individu kudu mempertimbangkan kondisi tubuh tetap fit misalnya, sebelum berendam kondisi perut tidak boleh kosong harus makan,” pungkasnya. [dya/ian]






