Lamongan (beritajatim.com) – Tak lekang oleh waktu. Kalimat tersebut menjadi gambaran bagaimana wingko babat sebagai salah satu jajanan khas Lamongan, tetap eksis dan menjadi primadona bagi penikmatnya, di tengah banyaknya kudapan kekinian.
Eksistensi wingko babat tak lepas dari terjaganya cita rasa dan proses produksi yang masih menggunakan cara tradisional. Hal itu membuat jajanan khas Lamongan ini tetap digemari dan terus mengalami peningkatan pesanan.
Salah satu tempat produksi wingko babat yang masih mempertahankan cita rasa dan proses produksi secara tradisional itu adalah produsen wingko babat “Rasa”, yang berada di Kampung Sawonggaling, Kelurahan Babat, Kecamatan Babat.
Di rumah produksi wingko yang berdiri sejak tahun 1999 inilah, kue tradisional khas Lamongan berbahan dasar kelapa muda, tepung beras ketan dan gula dibuat.
“Rumah produksi wingko babat ini mulai kami dirikan sejak tahun 1999, tepatnya di tanggal 9 bulan 9,” kata Nia, produsen wingko babat “Rasa”, Rabu (9/10/2024).
Nia menyebutkan, sampai saat ini permintaan dari konsumen tetap tinggi. Dalam sehari, wingko babat Rasa yang memperkerjakan 15 karyawan itu mampu memproduksi lebih dari 1000 buah wingko.
“Wingko dibuat dengan cara yang masih tradisional menggunakan tungku kayu dan hingga kini masih eksis dalam memenuhi pesanan dari para pelanggan,” ujarnya.
Meski permintaan tinggi, namun Nia menegaskan tetap menjaga kualitas dan cita rasa wingko babat produksinya. Untuk urusan harga, wingko babat Rasa ini dijual dengan harga yang terjangkau.
“Wingko babat kami ini kami jual dengan harga Rp10 ribu per kemasan dengan isi 15 buah,” tuturnya.
Sementara itu, Cabup Lamongan, Yuhronur Efendi, saat berkunjung dan melihat proses pembuatan wingko babat Rasa, mengatakan bahwa sebagai upaya untuk membantu para pelaku UMKM, khususnya para produsen wingko babat, Pemkab Lamongan telah mematenkan wingko babat ini sebagai salah satu jajanan khas Lamongan.
Pria yang akrab disapa Pak Yes itu juga mengatakan, selama periode kepemimpinannya sebagai Bupati Lamongan, pihaknya juga telah menggagas dan menjalankan Gerakan Ayo Ditumbasi sebagai gerakan untuk lebih mengenalkan dan meramaikan UMKM Lamongan.
“Ketika itu Covid-19 kita membuat klaster-klaster UMKM dan salah satunya adalah wingko ini, yang semuanya itu kita rangkum dalam Gerakan Ayo Ditumbasi. Khusus Wingko ini juga sudah kita patenkan,” ujar Pak Yes.
Ke depan, lanjut Pak Yes, pihaknya akan terus mendorong para pelaku UMKM ini dengan salah satunya adalah permodalan, kemasan yang lebih bagus dan juga pemasaran agar lebih sukses dan maju lagi.
“Kita akan terus mendorong para pelaku UMKM di Lamongan agar bisa lebih maju dan lebih dikenal luas lagi. Sukses untuk wingko babat,” ucapnya. [fak/beq]






