Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda seluruh wilayah Jawa Timur hingga 10 Maret 2026. Masyarakat diimbau mewaspadai hujan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang akibat memasuki masa peralihan musim atau pancaroba.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini menunjukkan peningkatan ketidakstabilan yang signifikan di berbagai titik. Perubahan pola cuaca ini diprediksi akan berdampak langsung pada penurunan kualitas cuaca di 38 kabupaten dan kota.
“Diprakirakan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” ujar Taufiq dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Pemicu utama fenomena ini adalah gangguan gelombang atmosfer seperti Madden Jullian Oscillation (MJO), Low Frequency, serta Gelombang Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur secara bersamaan. Selain itu, suhu muka laut di perairan selatan Jawa yang masih hangat turut mempercepat pertumbuhan awan konvektif yang membawa massa air dalam jumlah besar.
“Suhu muka laut di perairan selatan Jawa Timur masih cukup signifikan serta kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang,” jelasnya.
Taufiq mengingatkan warga untuk mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi seperti angin puting beliung, hujan es, hingga banjir bandang dan tanah longsor. Risiko ini merata di seluruh wilayah, mulai dari Pacitan hingga Banyuwangi, serta wilayah perkotaan seperti Surabaya dan Malang Raya.
Peringatan ini mencakup wilayah selatan dan pegunungan, wilayah tengah, utara, hingga pulau Madura. Kota-kota besar seperti Kota Surabaya, Kota Batu, Kota Kediri, dan Kota Probolinggo juga masuk dalam daftar daerah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem tersebut.
BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra bagi penduduk yang tinggal di area bertopografi curam atau di sekitar tebing. Pihak berwenang juga meminta masyarakat rutin memantau pergerakan awan melalui sistem teknologi terbaru milik BMKG secara mandiri.
“Masyarakat dapat memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca WOFI melalui website serta informasi peringatan dini 3 harian serta peringatan dini setiap 2-3 jam ke depan yang dibagikan BMKG Juanda,” pungkasnya. [rma/beq]






