Banyuwangi (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Banyuwangi berhasil menemukan sebanyak 2.574 warga terkonfirmasi positif Tuberkulosis (TBC) per September 2025. Dari temuan kasus yang ada, menunjukkan bahwa penyakit menular TBC masih menjadi ancaman serius terutama di lima kecamatan dengan kasus tertinggi di Bumi Blambangan.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat mengatakan, bahwa penemuan kasus TBC ini merupakan hasil dari intensifikasi skrining program cek kesehatan gratis.
Dari total 20.220 suspek yang berhasil ditemukan hingga minggu kedua September, sekitar 12,7 persen diantaranya dinyatakan positif.
“Total suspek TBC sekitar 20.220 orang, dengan terkonfirmasi positif sebanyak 2.574 kasus di 2025. Artinya, dari setiap 100 suspek yang diperiksa, sekitar 12,7 persen terkonfirmasi TBC, dan rasio ini relatif sesuai dengan proporsi nasional antara 10–15 persen,” ujarnya.
Amir menjelaskan, terdapat lima kecamatan di Bumi Blambangan dengan sebaran kasus TBC tertinggi. Dengan urutan pertama diduduki oleh Kecamatan Banyuwangi, yang tercatat sebanyak 606 kasus.
Selanjutnya di urutan kedua yakni Kecamatan Gambiran dengan 251 kasus, sedanvka posisi tiga yakni Kecamatan Genteng dengan 209 kasus.
Selanjutnya Kecamatan Muncar masuk dalam posisi keempat dengan total kasus 120 temua dan terakhir Kecamatan Rogojampi dengan 125 kasus temuan. Sedangkan untuk kasus TBC anak di Banyuwangi sebanyak 264 anak terkonfirmasi.
“Dari temuan kasus di setiap daerah, menunjukkan bahwa penularan TBC terjadi di lingkungan keluarganya,” ujarnya.
Amir mengaku, di Banyuwangi sendiri jumlah temuan kasus TBC terus meningkat setiap tahunya. Mulai tahun 2021 tercatat sebanyak 5.715 suspek dengan terkonfirmasi positif 1.892 kasus. Tahun 2022 jumlah temuan meningkat sebanyak 16.143 suspek dengan 2.939 kasus positif.
Di tahun 2023 temuan meningkat signifikan di yang tercatat 24.933 suspek dan 3.064 kasus positif. Sedangkan di tahun 2024 kasus meningkat namun tidak begitu signifikan dengan catatan temuan sebanyak 25.885 suspek dan 3.255 positif TBC.
Amir menambahkan, alasan mengapa tren temuan terus meningkat, karena surveillance terus dilakukan dengan gencar. Sehingga, semakin banyak temuan akan lebih bagus agar bisa segera bisa ditangani sejak dini.
Penyakit yang menyerang paru-paru akibat bakteri Mycobacterium Tuberculosis ini sedang menjadi atensi nasional termasuk di Banyuwangi yang mencatatkan temuan terbanyak. Hal ini akan terus digencarkan seperti yang terwujud dalam Gerakan Indonesia Akhiri TBC dengan target eliminasi TBC pada tahun 2030, melalui Perpres No. 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC. [kun]






