Banyuwangi (beritajatim.com) – Warisan tenun tradisional Banyuwangi terawat di Desa Jambesari, Kecamatan Giri. Ada salah seorang penenun legendaris tinggal di desa tersebut. Namanya Siami.
Usia Siami sudah tak muda lagi. Tapi, kegigihannya meneruskan warisan tenun tradisional tak lekang oleh Waktu.
Semangat itu mengalir dari titah sang ibu yang dengan lembut mengajarinya. Hingga tercipta kain tenun secara turun temurun.
Siami mengaku belajar dari ibunya yang juga seorang penenun tradisional. Langkah itu dimulainya sejak puluhan dekade silam.
“Namun yang melanjutkan hingga saat ini tinggal saya. Saya mulai menenun sejak sekitar tahun 1960-an,” kata Siami.
Gerakannya masih cekatan. Meskipun Siami sudah tak muda lagi.
Siami menenun dengan alat serta cara tradisional dan sederhana. Ia memakai alat penenun pangku yang terbuat dari kayu.
“Semua alat yang saya pakai adalah peninggalan ibu saya dulu. Masih saya rawat sampai saat ini,” ucapnya.
Setiap pagi, Siami mulai menenun sekitar pukul 08.00 WIB. Ia ulet memainkan tangan dengan alat tenun dan benang-benang sutera hingga sore hari.
“Biasanya istirahat saat dhuhur. Lalu lanjut lagi sampai sore. Malamnya memintal benang sampai larut,” ungkapnya.
Seperti yang terlihat, dia sedang menenun kain pesanan dari seorang warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, salah satu tempat tinggal warga Osing, suku asli Banyuwangi.
Saat ini, kain tenun yang diciptakannya berukuran 300 cm x 60 cm. Kain itu terbuat sepenuhnya dari benang sutera. Karena proses pengerjaannya sepenuhnya manual, butuh waktu sekitar sebulan untuk membuat satu lembar kain tenun.
Bahkan, mayoritas kain tenun tua yang dimiliki warga Desa Kemiren adalah buatan warga Desa Jambewangi.
Kondisi ini, berbanding lurus dengan tradisi warga setempat. Tradisi itu yakni menyediakan kain tenun berkualitas dalam beberapa kesempatan acara budaya.
Kain tenun buatan Siami ukurannya tak terlalu besar. Tapi, penuh makna karena ada semangat sang ibu yang selalu diembannya.
“Ini untuk gendongan. Atau biasa juga dipakai seserahan di acara pernikahan,” katanya.
Siami menciptakan kain gendongan terdiri dari lima motif. Di antaranya, Keluwung, Solok, Boto, Lumut, dan Gedokan. Harga kain tenun buatan Siami dibanderol Rp4 juta per lembar.
“Bisa juga kalau mau bawa benang sendiri. Kalau benangnya dari pemesan, harganya Rp2 juta. Yang lama dari memuat kain tenun itu menata tiap benang di alat tenun ini. Butuh beberapa hari. Memang harus telaten,” ucapnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani meninjau langsung kegiatan Siami di rumahnya. Ipuk memberi apresiasi upayanya melestarikan warisan tenun tradisional asal Banyuwangi.
“Beliau ini luar biasa. Seorang pelestari tenun yang tetap konsisten hingga saat ini,” kata Ipuk.
Agar kerajinan tenun tak hilang, Ipuk berencana untuk memunculkan penenun-penenun baru yang bisa belajar pada Siami, agar ada regenerasi penenun di Banyuwangi.
“Alhamdulillah, putri Mbah Siami juga mulai rajin menekuni menenun. Ini menggembirakan, semoga ada kerabat lain mengikuti,” kata Ipuk.
Sejumlah desainer Banyuwangi juga banyak menggunakan kain tenun buatan Siami.
“Kami minta ada kolaborasi antara dinas dengan para desainer ke depannya untuk memanfaatkan produk ini, sebagai bagian dari warisan wastra di Banyuwangi,” tuturnya. [rin/beq]






