Gresik (beritajatim.com) – Bila daerah lain sudah merayakan Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Sebaliknya warga Kampung Pekauman, Kecamatan Gresik, baru mulai merayakan lebaran. Tidak heran usai selepas sholat Idul Fitri 1 Syawal, kampung yang berada di samping Alun-alun Kota Gresik itu tidak ada aktivitas bersilaturrahmi atau bermaaf-maaf dengan warga.
Pasalnya, warga setempat memiliki tradisi merayakan lebaran di 7 syawal. Tradisi lebaran 7 syawal sudah lama dilestarikan oleh warga Pekauman. Bahkan, menjelang hari raya itu masyarakat setempat beramai-ramai masak dalam ukuran besar. Baik kupat (ketupat) hingga aneka ragam lauk untuk pendampingnya. Banyaknya masakan tersebut bukan tanpa sebab, para sanak saudara masyarakat Kampung Pekauman biasanya datang untuk lebaran pada 7 Syawal.
Malahan untuk menyemarakan lebaran itu, masyarakat saling menghias gang-gang di kampung tersebut. Berkaca di tahun sebelumnya, masing-masing rumah memasak ratusan kupat. Kemudian juga menyiapkan opor daging, opor ayam, hingga gulai. Selanjutnya aneka masakan tersebut dimakan bersama-sama.
BACA JUGA:
Lebaran ‘Kupatan’ di Kampung Kauman Gresik Kembali Digelar
Kampung Pekauman yang memiliki 4.300 warga di tujuh RT. “Idul Fitri 1 Syawal kampung kami malah sepi. Bahkan pada 2 Syawal masyarakat Pekauman puasa selama enam hari. Nah di hari ketujuh inilah lebarannya orang Pekauman,” ujar Ahmad Yani selaku Ketua RW Pekauman, Rabu (26/4/2023).
Ahmad Yani menceritakan, biasanya ketupat disandingkan dengan opor ayam. Di Kampung Pekauman berbeda. Menu opor daging peninggalan Kyai Baka menjadi sajian utama dalam tradisi itu. “Semua rumah terbuka untuk siapa saja. Sselalu ramai saat 7 Syawal. Ini karena kerabat hingga masyarakat umum datang kesini,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Tradisi Dokaran, Wisata Warga Gresik Usai Lebaran
Yani, sapaan Ahmad Yani, menyebut, saat perayaan tradisi kupatan ini tamu yang berdatangan selain sekeliling kampung juga berasal dari kerabat dekat hingga kerabat jauh. Bahkan, kerabat dari luar kota hingga luar pulau dipastikan juga datang.
“Warga perantauan pasti datang, karena sudah tahu kalau di Pekauman lebarannya 7 syawal. Malah masyarakat yang tidak memiliki kerabat disini pun juga datang,” katanya. [dny/suf]






