Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Dua Tahun Ditiadakan

Lebaran ‘Kupatan’ di Kampung Kauman Gresik Kembali Digelar

Gresik (beritajatim.com) – Lebaran kupatan Kampung Kauman di Gresik kembali digelar. Tradisi turun-temurun itu, sempat vakum dua tahun akibat pandemi covid-19. Warga memasak ribuan ketupat sebelum dibagikan ke  tamu. Ini adalah tradisi islami peninggalan ulama besar Kyai Baka yang terus dilestarikan.

Semula lebaran kupatan di kampung Kauman itu setiap tahun digelar. Bedanya saat kasus pandemi covid-19 tinggi, lebaran ini tetap digelar tapi hanya dikhususkan terbatas di lingkup RT.

Setelah melandai, tradisi kupatan ini digelar secara meriah. Masyarakat cukup sibuk menyiapkan acara kupatan yang dilakukan sore hingga malam. Ibu-ibu sibuk memasak ratusan ketupat di masing-masing rumah, sambil memasak opor daging, opor ayam, hingga gulai.

Sementara yang laki-laki juga sibuk menghias pernak pernik di sepanjang jalan kampung tersebut. Kampung Kauman ini memiliki 4.300 warga di tujuh RT. Setiap lebaran tanggal tujuh syawal selalu ramai. Uniknya, saat hari raya Idulfitri malah sepi.

“Bedanya pas lebaran idulfitri justru Kampung Kauman malah sepi. Ini karena masyarakat Pekauman puasa selama enam hari. Nah di hari ketujuh inilah lebarannya orang Pekauman,” ujar Ahmad Yani selaku Ketua RW Pekauman, Senin (9/5/2022).

Ia menjelaskan kupatan tahun ini disambut antusias oleh masyarakat. Terdapat tujuh panggung di tujuh RT. Namun, yang kerap menjadi jujukan masyarakat luar yakni RT 04. Antusias masyarakat itu sangat terlihat dari ornamen-ornamen lampu hias hingga ketupat yang bergelantungan di sepanjang gang kampung tersebut. Malahan, di RT 07 akan disiapkan hiburan musik. “Ada yang pakai musik, kalau di RT 4 tempat kami kasih photo booth untuk mengurai kemacetan,” ungkap Yani.

Kupatan di kampung pekauman ini memang berbeda. Saat tujuh syawal ini ribuan masyarakat dari luar Pekauman hingga luar kota berbondong-bondong berkunjung. Pantas saja, di setiap rumah, rata-rata menyiapkan 50 hingga 100 ketupat. “Biasanya rata-rata ada 100 pengunjung di setiap rumah dengan menu yang berbeda-beda,” kata Yani.

Ia menambahkan, menu ketupat dengan opor ayam di Kampung Pekauman berbeda dengan daerah lain. Menu opor daging peninggalan Kyai Baka menjadi sajian utama dalam tradisi itu. Meski demikian, menu-menu lain juga ada, seperti opor ayam, ubus, hingga gulai. “Setiap rumah terbuka untuk siapa saja tidak hanya warga asli tapi juga tamu yang berkunjung,” imbuhnya.

Perayaan tradisi kupatan, lanjut dia, tamu yang berdatangan selain sekeliling kampung juga berasal dari kerabat dekat hingga kerabat jauh. Bahkan, kerabat dari luar kota hingga luar pulau dipastikan juga datang. “Pasti datang, karena sudah tahu kalau di Pekauman lebarannya tujuh syawal,” pungkasnya sambil berpromosi. [dny/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar