Blitar (beritajatim.com) – PT Moderna Teknik Perkasa menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan dinamika lingkungan di Kelurahan Babadan, Kecamatan Wlingi, melalui langkah-langkah perbaikan operasional yang lebih terukur.
Dalam forum hearing di DPRD Kabupaten Blitar perusahaan membeberkan strategi terbaru untuk mengawasi dan merespons setiap keluhan warga secara langsung.
Langkah ini diambil menyusul adanya aduan puluhan warga Dusun Darungan terkait polusi udara dan kebisingan operasional pabrik yang dianggap mengganggu kesehatan serta kenyamanan pemukiman sekitar.
Menyadari pentingnya komunikasi dua arah, PT Moderna Teknik Perkasa kini mengaktifkan sistem pengawasan keluhan warga melalui jalur khusus. Perwakilan perusahaan, Suryanto, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyediakan nomor aduan yang dirancang untuk memberikan respons cepat bagi warga.
“Kami selalu berdiskusi dengan warga. Bahkan kami sudah menyediakan nomor aduan yang fast respons agar setiap keluhan bisa segera ditangani dan tidak menumpuk menjadi polemik,” jelas Suryanto di hadapan anggota dewan dan OPD terkait.
Selain memperbaiki aspek komunikasi, perusahaan juga memaparkan rencana teknis untuk meminimalisir dampak polusi asap yang dikeluhkan warga, termasuk keluhan mengenai gangguan pernapasan yang dialami anak-anak di sekitar lokasi.
PT Moderna Teknik Perkasa berencana melakukan modifikasi pada infrastruktur pabrik. “Ke depan, cerobong asap akan kami tinggikan dan diameternya diperkecil. Tujuannya agar tekanan asap langsung menuju ke atas (atmosfer) dan tidak mengarah ke rumah warga,” papar Suryanto.
Sebelumnya, Puluhan warga Dusun Darungan Kelurahan Babadan Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Mereka mengadu adanya polusi udara yang ditimbulkan oleh pabrik material konstruksi yang ada di lingkungan mereka.
Salah satu warga, Lola mengaku bahwa pabrik tersebut menimbulkan asap dan debu yang mengganggu kondisi kesehatan warga. Bahkan anaknya kini sering mengalami batuk dan sempat divonis mengalami gangguan paru, diduga imbas sering menghirup asap tebal yang dihasilkan oleh pabrik.
“Rumah saya jarak 4 rumah dari lokasi pabrik, itu asapnya yang sangat mengganggu,” ucap Lola pada Senin (2/2/2026).
Menurut warga pabrik tersebut sudah beroperasi sejak lama. Kondisi ini pun sudah dikeluhkan warga berulang, namun keluhan warga ini belum ditindaklanjuti oleh perusahaan.
“Anak saya itu yang sering batuk bahkan saat kemarin ke dokter katanya kena parunya,” tandasnya.
Warga lain, Jafar Sodiq menyebut bahwa pabrik aspal dan pemecah batu tersebut beroperasional hingga larut malam. Kondisi ini tentu mengganggu warga yang sedang beristirahat.
“Truk truk masih beraktivitas sampai malam. Padahal kesepakatannya jam 4 sore sudah tutup operasionalnya, namun masih terus lanjut sampai tengah malam,” ucap Jafar.
Warga pun berharap ada solusi atas permasalahan ini. Sehingga warga tidak lagi merasakan dampak negatif dari polusi udara yang dihadirkan pabrik.
“Jarak terdekat rumah dengan pabrik 35 meter. Rumah terdekat mengalami rusak, sampai rontok,” tandasnya. (owi/ted)






