Blitar (beritajatim.com) – Belum juga hilal Ramadan tampak, namun perang memperebutkan berkah sudah dimulai di Kota Blitar. Bukan oleh pembeli, melainkan oleh ratusan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang rela mengantre sejak pagi buta demi mengamankan satu tempat di Bazar Takjil legendaris di Jalan Kenanga dan depan Alun-alun.
Pantauan di lokasi, antrean sudah mengular jauh sebelum loket resmi dibuka oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar. para pelaku UMKM ini rela antre berjam-jam demi bisa berjualan di Bazar Takjil Jalan Kenanga.
David, salah satu pelaku UMKM, menjadi potret nyata perjuangan tersebut. Ia mengaku sudah mematung di lokasi pendaftaran sejak pukul 05.30 WIB, padahal petugas baru melayani pendaftaran pada pukul 08.00 WIB.
“Saya datang subuh supaya dapat nomor awal. Harapannya tahun ini bisa lolos dan berjualan di bazar kota. Ini kesempatan besar untuk menambah penghasilan,” ungkap David dengan nada penuh harap, Selasa (11/02/2026).
Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto, mengungkapkan bahwa antusiasme tahun ini meledak di luar prediksi. Hanya dalam hitungan jam, lebih dari 200 pendaftar sudah masuk ke kantong data petugas. Namun, masalahnya klasik yakni lahan terbatas.
“Lapak yang tersedia di Jalan Kenanga dan depan Alun-alun hanya untuk 150 stan. Karena peminatnya membludak, kami gunakan sistem undian (lotre). Tidak ada yang dulu-duluan, semua punya peluang sama. Ini soal rejeki-rejekian,” tegas Parminto.
Untuk menjaga integritas ekonomi lokal, Parminto memberlakukan syarat ketat yakni wajib KTP Kota Blitar. Langkah ini diambil untuk memproteksi pelaku usaha lokal agar tidak tergusur oleh pedagang luar daerah di tanah sendiri.
Bagi mereka yang nantinya tidak beruntung dalam undian, Pemkot Blitar telah menyiapkan tempat alternatif berjualan. Beberapa titik strategis telah disiapkan sebagai alternatif agar semua UMKM tetap bisa menjemput rezeki, di antaranya:
- Pelataran Pasar Templek (yang telah dipaving luas).
- Halaman Pasar Legi.
- Area Sport Center dan Jalan Brigjen Katamso.
- Kawasan PIPP dan depan MPP.
Bazar yang akan dimulai pada 18 Maret mendatang ini menerapkan aturan ketat namun pro-rakyat. Retribusi dipatok sangat rendah, yakni hanya Rp1.000 per meter persegi. Namun, pedagang memiliki kewajiban moral dan administratif yakni melaporkan omzet harian.
“Kami ingin melihat perputaran uang di sana. Selain itu, lapak tidak boleh dipindahtangankan atau dijual ke orang lain. Kalau lelah jualan, kembalikan ke kami, biar kami berikan ke yang lain,” pungkas Parminto.
Bazar Takjil Kota Blitar dijadwalkan beroperasi mulai pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB. Setelah maghrib, area harus sudah bersih kembali, memastikan ibadah salat tarawih warga tidak terganggu oleh aktivitas perniagaan. (owi/ian)






