RINGKASAN BERITA:
- Kemenhaj RI akan mencabut izin operasional KBIH nakal yang kedapatan tidak tertib and nekat mengkavling tenda di Arafah.
- Tim Linjam diperintahkan bergerak cepat menyisir area maktab untuk mencopot paksa semua atribut penanda ilegal milik KBIH.
- Pemerintah memperketat perlindungan fasilitas maktab bagi jemaah haji mandiri agar tidak tergeser oleh egoisme kelompok tertentu.
- Wamenhaj mengingatkan petugas untuk menjaga fokus penuh karena operasional haji kini telah memasuki fase paling kritis.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia mengambil langkah tegas demi melindungi hak-hak seluruh jemaah haji Indonesia menjelang pergeseran massal ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) yang kedapatan berulah, egois, and tidak tertib di lapangan diancam akan langsung dicabut izin operasionalnya secara permanen pasca-musim haji berakhir.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, instruksi sanksi berat ini diserukan langsung oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, saat menggelar visitasi ke hotel pemondokan jemaah di Sektor 6 Makkah.
Ketegasan pemerintah ini menjadi jaminan pelayanan positif yang merata bagi seluruh jemaah, sekaligus mengikis kecemasan pihak keluarga di tanah air menjelang fase puncak haji.
Dahnil mengungkapkan, salah satu praktik buruk warisan pola lama yang mencederai asas keadilan di lapangan adalah aksi sepihak oknum KBIH yang menandai atau melakukan “pengkavlingan” tenda di Arafah sebelum rombongan tiba.
Tindakan ilegal tersebut dinilai sangat merugikan hak-hak jemaah lain, terutama jemaah haji mandiri yang tidak tergabung dalam kelompok bimbingan mana pun.
“Tantangan kita nih, mohon maaf ini sebelumnya, saya sudah wanti-wanti KBIH-KBIHO yang bandel-bandel itu, kami akan pastikan setelah hajian ini akan kami cabut izin-izinnya. Kenapa? Karena tidak tertib di Arafah,” ujar Dahnil Anzar dengan nada tinggi dan tegas di hadapan perangkat sektor.
“Itu masih ada perilaku lama, meng-kavling tenda Arafah. Yang ngatur itu kan seharusnya kita, tapi mereka datang ke sana di-kavling-kavling seolah-olah itu tenda KBIH-nya. Itulah yang dulu menyebabkan banyak jemaah tidak kebagian tenda,” sambung Wamenhaj membongkar modus di lapangan.
Merespons temuan pelanggaran tersebut, Kemenhaj bergerak cepat di bawah satu komando koordinasi. Wamenhaj bersama Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf telah menginstruksikan Tim Perlindungan Jemaah (Linjam) untuk menyisir seluruh area maktab di Padang Arafah and melakukan eksekusi pencopotan paksa terhadap semua atribut penanda sepihak milik KBIH.
Lebih lanjut, Dahnil mengingatkan kembali khittah dan esensi dasar pendirian KBIH sebagai mitra strategis pemerintah untuk memberikan bimbingan ibadah secara sukarela, bukan bertransformasi menjadi entitas komersial yang mengeruk keuntungan sepihak. “Jangan berubah jadi kelompok bisnis haji dan umrah! Itu bagian travel, bagian PIHK. Jangan kelompok bisnis ibadah,” cetusnya.
Demi mengamankan hak jemaah mandiri, Dahnil menginstruksikan kepada para petugas haji serta seluruh kepala sektor di Makkah untuk berani menindak tegas oknum di lapangan jika mengendus adanya indikasi pemerasan atau pungutan liar.
“Mohon para petugas nanti, malam ini kepada sektor, kalau ada teman-teman KBIH di sini, jangan ragu kalau tidak patuh, tidak ikut aturan kita, ditegur langsung! Lapor. Kita tertibkan karena kita ingin pastikan jemaah kita mendapatkan hak-hak mereka yang benar,” tegasnya.
Ketegasan penertiban KBIH ini sengaja digencarkan lantaran operasional haji 1447 H/2026 M kini telah memasuki fase paling krusial. Wamenhaj mengibaratkan sisa waktu menjelang pergerakan Armuzna ini seperti seorang pelari maraton nasional yang sudah melihat garis finish di depan mata, sehingga tidak boleh ada kelengahan sekecil apa pun.
Sesuai jadwal makro transportasi yang dirilis Kabid Transportasi Syarif Rahman, operasional Bus Shalawat umum akan dihentikan sementara pada Jumat, 5 Dzulhijjah atau 22 Mei 2026 pukul 18.00 WAS demi sterilisasi jalur Masyair. Manajemen komando terpadu ini disiapkan untuk mematangkan pendorongan massal ratusan ribu jemaah untuk melaksanakan wukuf di Arafah.
“Titik krusial kita bukan pada 31 hari yang sudah lewat, titik krusial kita ada di 4 sampai 6 hari ke depan. 6 hari itulah titik krusial kita. Sudah kelihatan finish-nya, tapi kalau kemudian di 5 meter jelang finish kita terjatuh, maka kita bisa gagal,” pungkas Dahnil mengingatkan seluruh elemen PPIH Arab Saudi untuk tetap menjaga stamina, imbauan hidrasi, serta kesiapsiagaan penuh demi menyukseskan hari wukuf pada Selasa, 26 Mei mendatang. [ian/MCH]






