Surabaya (beritajatim.com) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku enggan membuka identitas anak pejabat yang mendapat Beasiswa Pemuda Tangguh, meskipun pada dasarnya prilaku mereka keliru, pada Rabu (28/1/2026).
Eri menyampaikan alasannya, bahwa keputusan merahasiakan identitas ini disebut sebagai langkah bijak pemimpin untuk melindungi mental mahasiswa. Hal ini dilakukannya guna mencegah tekanan psikologis yang beresiko menghambat kelancaran studinya.
“Ada yang ngomong ‘sebutkan namanya saja’, kalau anak-anak ini saya sebutkan namanya, yang datanya masuk ke perguruan tinggi lebih tinggi, ya bisa stres anak ini,” ujar Eri di Balai Kota Surabaya, Rabu (28/1/2026).
Apalagi, Eri menjelaskan sampai saat ini dirinya belum mengetahui motif mengapa para mahasiswa kemudian berbohong soal memasukkan daftar gaji orang tuanya, maupun mereka yang nekat daftar meskipun ekonominya mapan. Dia juga menduga ada pihak yang sengaja mengarahkan hal itu.
“Loh kok bisa masuk mandiri, aku ya bingung, siapa yang menyuruh anak-anak ini? Berati kan ada yang bermain ini. Ada yang menyuruh, tapi sudahlah, ini sudah kebongkar semuanya,” jelas dia.
Eri juga mengaku sangat khawatir, ketika dirinya membuka identitas para mahasiswa tersebut akan berdampak kepada respon publik di media sosial (medsos) karena tindakannya. Selain itu, dia akan memilih menyelesaikan inti masalah tersebut.
Dengan demikian, Eri berjanji untuk melakukan evaluasi terkait sistem Beasiswa Pemuda Tangguh. Agar tidak ada lagi kecurangan dalam mendapatkan beasiswa UKT tersebut.
“Cukup saya saja yang ramai di medsos, jangan anak-anak saya. Tapi, saya bisa membongkar semuanya, maka ke depannya kami dengan perguruan tinggi sama-sama introspeksi,” tutupnya. (rma/ted)






