Mojokerto (beritajatim.com) — Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menekankan bahwa program Kota Layak Anak (KLA) bukan semata-mata ajang meraih penghargaan, melainkan sebuah langkah strategis dalam mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Hal tersebut saat Rapat Koordinasi Tim Gugus Tugas KLA.
“KLA bukan sekadar gengsi-gengsian. Ini adalah ikhtiar kita untuk keberlanjutan bangsa, untuk membangun Kota Mojokerto ke depan,” ungkap Ning Ita (sapaan akrab, red) bertempat di Ruang Sabha Mandala Madya, Balai Kota Mojokerto, Senin (28/4/2025).
Ning Ita mengajak seluruh pihak untuk mengubah pola pikir (mindset) dalam memaknai KLA, dari sekadar kewajiban administratif menjadi komitmen bersama dalam menyiapkan pewaris bangsa menuju visi besar Indonesia Emas 2045. Karena setiap indikator penilaian dalam KLA adalah bagian dari penyiapan menuju Indonesia Emas.
“Mindset-nya harus diubah, KLA adalah untuk menyiapkan pewaris kita ke depan. Setiap indikator penilaian dalam KLA adalah bagian dari penyiapan menuju Indonesia Emas. Maka mohon menata hati, menyiapkan hati. Lakukan dengan tulus dan ikhlas, sekecil apapun kontribusi kita,” tambahnya.
Rapat Koordinasi Tim Gugus Tugas KLA digelar jelang proses verifikasi lapangan dalam rangka penilaian Kota Layak Anak (KLA) yang dijadwalkan pada 30 April 2025 mendatang. Rapat koordinasi ini juga menjadi momentum untuk menyatukan persepsi dan menyelaraskan langkah setiap gugus tugas dalam memenuhi indikator penilaian KLA.
Mencakup pemenuhan hak-hak anak yang terbagi menjadi enam kaster. Yakni klaster kelembagaan, klaster hak sipil dan kebebasan, klaster lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, klaster kesehatan dan layanan dasar, klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya serta klaster perlindungan khusus. [tin/kun]






