Malang (beritajatim.com) – Virus HMPV (Human Metapneumovirus) mungkin belum banyak diketahui masyarakat Indonesia. Staf divisi virologi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang dr. Andrew William Tulle memperingatkan bahwa virus ini memiliki potensi untuk menyebar dengan cepat di Indonesia.
Menurut Dosen Departemen Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran UB ini penyebaran virus ini yang mirip dengan flu biasa. Namun, masyarakat perlu lebih waspada, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Andrew William menjelaskan bahwa virus HMPV, pertama kali ditemukan pada 2001 di Belanda, dikenal sebagai penyebab infeksi saluran pernapasan yang sering menyerang anak-anak di bawah lima tahun. Ia menegaskan bahwa meskipun saat ini belum ada laporan resmi mengenai penyebaran HMPV di Indonesia, potensi virus menyebar sangat besar, terutama musim hujan atau saat transisi musim.
“HMPV adalah virus musiman yang cenderung menyerang di musim dingin hingga musim semi. Dengan perubahan cuaca di Indonesia, kita harus lebih waspada karena virus ini bisa menyebar secara tidak terdeteksi,” ujar dr. Andrew, yang juga sedang menempuh Pendidikan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Meskipun HMPV tidak secepat COVID-19 dalam hal penyebaran, dr. Andrew menekankan bahwa virus ini tetap memiliki potensi untuk berkembang biak dengan cepat. Virus ini menyebar melalui droplet saat batuk atau bersin dan bisa bertahan lama pada permukaan benda yang terkontaminasi.
“Dengan pola hidup masyarakat yang terkadang mengabaikan kebersihan, virus HMPV bisa menyebar secara luas tanpa terdeteksi,” tambahnya saat diwawancara beritajatim.com, Jumat (3/1/2025).
Lulusan Master of Science, Royal Melbourne Institute of Technology University, Melbourne Australia ini menjelaskan bahwa anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki gangguan imun lebih rentan terhadap infeksi HMPV. Gejalanya bisa mirip dengan flu biasa, seperti demam, batuk, dan pilek.
Namun, pada saluran pernapasan bawah, HMPV bisa memperburuk kondisi asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Oleh karena itu, dr. Andrew mengingatkan bahwa masyarakat yang memiliki faktor risiko harus lebih berhati-hati dan segera berkonsultasi jika merasa terinfeksi.
“Hingga kini, belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk HMPV. Pengobatannya hanya berupa terapi simptomatik atau suportif untuk meringankan gejala. Oleh karena itu, pencegahan adalah langkah terbaik,” jelas dr. Andrew.
Pencegahan yang disarankan antara lain menjaga kebersihan tangan, menggunakan etika batuk yang benar. Selain itu, disarankan juga memperkuat daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat.
Dr. Andrew menekankan bahwa pencegahan penyebaran virus HMPV di Indonesia harus dimulai dengan kebiasaan hidup bersih. Ini termasuk cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir.
“ Gunakan etika batuk yang benar, dengan menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Jaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi, cukup tidur, dan berolahraga,” jelasnya.
Melihat potensi penyebaran HMPV di Indonesia, dr. Andrew juga mengingatkan agar pemerintah segera mengingatkan kembali masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan etika batuk. Kampanye seperti yang dilakukan selama pandemi COVID-19, mengenai hand hygiene dan social distancing, harus digalakkan lagi.
“Sejak pandemi COVID-19, meskipun masyarakat mulai melonggarkan protokol kesehatan, kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan harus tetap dijaga. Dengan meningkatnya perubahan cuaca dan kemungkinan terjadinya penyebaran virus HMPV, langkah pencegahan menjadi lebih penting dari sebelumnya,” ujar dr. Andrew menutup. (dan/but)






