Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Pertanian UPN Veteran Jawa Timur melaksanakan program pengabdian masyarakat dengan menerapkan sistem raised bed di Kelompok Tani Minasari, Jemursari, Surabaya.
Program ini didanai melalui Kegiatan Pengabdian Masyarakat skema PKM Implementasi Riset (PKM IMRIS) LPPM UPN Veteran Jawa Timur No. SPP: SPP/61/UN.63.8/PM/V/2025 untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus selaras dengan Program “Kampus Berdampak”.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat sekaligus Dekan Fakultas Pertanian UPN Veteran Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Wanti Mindari, MP, menjelaskan kegiatan ini tidak hanya fokus pada praktik pertanian perkotaan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lahan berkelanjutan.
“Program ini hadir untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lahan kosong agar lebih indah, edukatif, dan produktif secara ekonomi. Kami ingin ruang hijau terbuka bisa dimanfaatkan melalui konsep Pekarangan Pangan Lestari (P2L),” kata Prof. Wanti dalam keterangan tertulisnya kepada beritajatim.com, Sabtu (23/8/2025).
Kegiatan melibatkan anggota Kelompok Tani Minasari sejak tahap asesmen, survei, hingga pengembangan lanskap dan pendampingan teknis. Mereka juga diberi materi budidaya tanaman dan praktik langsung di area raised bed yang sudah dibangun.
“Anggota kelompok tani aktif berpartisipasi, dan hasilnya lingkungan mereka kini terlihat lebih tertata hingga 30–40 persen. Selain itu, sekitar 30 persen anggota menunjukkan kepedulian lebih besar dalam mengelola kebun,” ujarnya.
Prof. Wanti menambahkan, hasil tersebut membuktikan bahwa program tidak hanya membawa manfaat lingkungan, tetapi juga membangun partisipasi masyarakat. Ia menilai raised bed menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kemandirian kelompok tani perkotaan.
“Raised bed ini mampu menghadirkan dampak nyata, baik dari segi lingkungan maupun sosial. Masyarakat lebih berdaya dan mandiri karena ruang hijau kini produktif sekaligus bermanfaat bagi ketahanan pangan keluarga,” jelasnya.
Selain praktik budidaya, program ini juga membekali anggota kelompok dengan pelatihan diversifikasi hortikultura dan workshop nilai tambah hasil panen. Tujuannya agar mereka bisa mengembangkan usaha tani organik berbasis urban farming yang lebih terpadu.
“Kami berharap Kelompok Tani Minasari bisa menjadi model percontohan dalam pengelolaan ruang terbuka hijau di Surabaya. Ke depan, kelompok ini diharapkan mampu membentuk unit usaha tani organik yang mandiri dan berkelanjutan,” pungkas Prof. Wanti.[asg/aje]






