Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (Basarnas) Surabaya menghentikan proses pencarian terhadap TH (24), korban yang menceburkan diri ke Sungai Brantas. Selama proses operasi SAR, Tim SAR Gabungan mendapatkan sejumlah kendala.
“Untuk upaya operasi SAR dalam tujuh hari ini, kendala yang kami hadapi. Di hari pertama, kedua dan ketiga operasi SAR itu adalah debit air yang cukup tinggi bahkan mencapai 800 meter³/detik,” ungkap On Scene Commander (OSC), Gani Wiratama, Senin (30/12/2024).
Sementara untuk kendala di hari keempat, lima, enam dan tujuh karena Tim SAR Gabungan sudah sampai muara dalam upaya pencariannya maka Tim SAR Gabungan harus menyesuaikan dengan jadwal pasang surutnya air laut. Hal tersebut yang menjadi kendala Tim SAR Gabungan dalam upaya pencarian korban TH (24).
“Untuk pencarian di muara sendiri, kami mengerakkan tiga perahu karet. Satu perahu karet dari Basarnas, satu perahu karet dari BPBD Provinsi Jawa Timur dan satu perahu karet dari BPBD Kabupaten Sidoarjo. Lami melakukan upaya pencarian dari unsur instansi pemerintah dan juga organisasi relawan,” katanya.
Pihaknya juga menyebarkan informasi terkiat upaya pencarian korban tersebut ke paguyupan nelayan yang ada di bantaran Sungai Brantas khususnya wilayah Tlocor dan juga nelayan yang beraktifitas di sekitar perairan Selat Madura. Jika ada tanda-tanda penemukan korban bisa menginformasikan.
“Jika nantinya ada tanda-tanda penemuan korban yang kami cari bisa menginformasikan kepada kita untuk selanjutnya kita lakukan upaya evakuasi. Secara SOP operasi SAR memang dilaksanakan selama tujuh hari, setelah 7 hari kita lakukan evaluasi terkait dengan efektivitas pencarian,” jelasnya.
Apabila memang tidak ditemukan tanda-tanda dan lain sebagainya terhadap korban maka operasi SAR dihentikan. Namun, tegasnya, bukan berarti Tim SAR Gabungan kemudian tidak melaksanakan apa-apa, tetapi setelah dihentikan tersebut akan dilakukan pemantauan.
“Apabila nanti ada informasi-informasi terkait dengan perkembangan penemuan korban maka operasi SAR bisa dibuka kembali dan kita lakukan upaya evakuasi terhadap korban. Total personel yang terlibat dalam upaya pencarian selama 7 hari ini, ada 70 orang baik itu dari instansi pemerintah dan organisasi relawan Mojokerto,” ujarnya.
Yakni dengan menerjunkan empat perahu karet yang bisa digunakan. Untuk di hari ketujuh, upaya pencarian dibagi empat SRU, satu perahu melakukan penyisikan dari Lokasi Kejadian Korban (LLK) pintu air Rolak 9 sampai dengan Jembatan Tanjakrono dan tiga perahu karet melakukan pencarian di muara.
“Yakni Muara Tlocor, Muara Ketingan dan Muara Sembilangan dan satu SRU melakukan penyisiran melalui jarak yang kita fokuskan di titik pantau diantaranya Jembatan Keling, Jembatan Tanjakrono, Jembatan Ngrame dan Jembatan Porong. Namun hingga 7 hari upaya pencarian belum membuahkan hasil,” tegasnya. [tin/ian]






