Malang (beritajatim.com) – Universitas Ma Chung mengadakan studium general yang dihadiri mahasiswa Fakultas Bahasa Dan Seni, Program Studi sastra Inggris. Acara yang berlangsung pada hari Kamis (2/3/2023) itu sebagai upaya membekali mahasiswa tentang pengetahuan isu terkini yaitu artificial intelligence (AI)
Kecerdasan Buatan menurut Kepala Prodi Sastra Inggris, Wawan Eko Yulianto, PhD. merupakan isu yang sedang berkembang saat ini. AI pada bidang ilmu komputer biasanya dikhususkan untuk pemecahan masalah kognitif yang terkait dengan kecerdasan manusia, seperti pembelajaran, pemecahan masalah, dan untuk mengenali pola tertentu.
“Kecerdasan Buatan, sering disingkat sebagai AI, mungkin konotasinya dengan robotika atau adegan futuristik. Kecerdasan Buatan (AI) mengungguli robot fiksi ilmiah, ke dalam non-fiksi ilmu komputer canggih yang lebih modern,” kata Wawan.
Studium general dilanjutkan dengan pembicara pertama yaitu Windra Swastika, Ph.d, Dosen Teknik Informatika Universitas Ma Chung. Menurutnya Chat GPT sebagai platform Language Model model bahasa.
“Language Model sendiri adalah mesin pembelajaran yang bisa menyajikan prediksi kata. Misalnya dengan analisis teks pada sebuah data. Prediksi tersebut sebagai respons atau output dari perintah teks yang diinput pengguna untuk Language Model,” ujarnya.
Kemampuan Chat-GPT tersebut, berdampak pada mahasiswa. Salah satunya untuk memfasilitasi mahasiswa dalam persiapan menjelang ujian tengah semester (UTS) ataupun ujian akhir semester (UAS).
“Chat-GPT pun bisa membantu menyelesaikan tugas menulis esai hingga dengan karya ilmiah seperti skripsi, tesis, dan disertasi. Namun sayangnya keberadaan Chat-GPT dengan kemampuan tingkat tinggi mengolah informasi ibarat dua sisi mata pisau. Di satu sisi membantu penyelesaian tugas pendidikan, namun berpotensi merusak sistem pendidikan yang sudah dibangun sejak lama, jika tidak digunakan dengan bijak,” kata dosen Ma Chung itu.
Serupa dengan pembicara pertama, pembicara kedua Antono Wahyudi, SS koordinator mata kuliah umum, pendidikan Karakter dan kepemimpinan Universitas Ma Chung memandang jika Chat-GPT perlu dikorelasikan dengan critical thinking. Hal itu agar mahasiswa memiliki konstruksi pemikiran mengenai Chat-GPT berbasis artificial intelligence.
“Critical thinking harus diasah, dengan melakukan sistem pembelajaran bersifat HOTS (High Order Thinking Skills) yang berpengaruh pada kemampuan berpikir analitis dan kreatif,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”Universitas-Ma-Chung”]
Menurut Antono dosen tidak hanya menanamkan pembelajaran dengan hafalan dan minim kontekstualitas. Apalagi dengan adanya bantuan Artificial Intelligence (AI) bernama Chat GPT, dosen harus lebih kondisional.
“Chat GPT jadi pendamping yang bisa melakukan berbagai pekerjaan. Misalnya dalam Program Studi Sastra Inggris, mahasiswa diminta membuat puisi bertemakan negara. Mereka yang terbiasa dengan internet akan mengakses mesin pencari seperti Google untuk menemukan jutaan contoh puisi sebagai referensi,” katanya.

Menariknya, Chat GPT bukan sekadar mesin pencari. Mahasiswa bisa meminta jawaban yang bersifat personal dan spesifik mulai dari jumlah kata, penggunaan bahasa, sampai gaya ungkap emosi puisi. Maka, dosen yang abai dengan pembelajaran kontekstual akan membuat mahasiswa mempertanyakan kembali relevansi perkuliahan dengan kehidupan sehari-hari.
“Jika relevansinya tipis, maka berbagai jalan pintas akan dilakukan, termasuk memanfaatkan Chat GPT untuk membuat tugas yang ala kadarnya. Di sinilah critical thinking manusia diuji dan berdampak banyak Tantangan ini kemudian melahirkan tantangan pada produk tanpa kontrol kualitas, meski bukan masalah bagi dosen yang berorientasi kuantitas,” pungkasnya. [dan/but]






