Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) meloloskan 25 calon mahasiswa baru jalur Golden Ticket pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Penerima fasilitas istimewa ini mendapat pembebasan uang kuliah tunggal (UKT) selama delapan semester.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi menjelaskan skema tahun ini berbeda. Jika sebelumnya hanya untuk jalur mandiri, kini Golden Ticket menyasar peserta SNBP dengan kuota terbatas.
Penerima kebijakan ini tidak perlu memikirkan biaya pendidikan hingga lulus. Kampus memberikan apresiasi penuh atas capaian prestasi luar biasa yang dimiliki para calon mahasiswa tersebut sebelum masuk perguruan tinggi.
“Mereka dibebaskan dari semua biaya uang kuliah tunggal sehingga selama delapan semester yang bersangkutan tidak perlu membayar UKT,” kata Martadi, Kamis (2/4/2026).
Pihak kampus menyiapkan pendampingan khusus agar prestasi mahasiswa tetap terjaga. Unesa tidak ingin mahasiswa berprestasi justru mengalami penurunan kualitas atau kehilangan fokus saat menempuh studi di bangku perkuliahan.
“Inilah anak-anak istimewa yang perlu dirawat serta didampingi sehingga ketika masuk mereka tetap bisa berprestasi,” lanjut Martadi.
Seleksi berlangsung ketat karena pendaftar Golden Ticket SNBP mencapai 1.500 orang. Hanya 600 peserta yang dinyatakan layak sebelum akhirnya tim seleksi mengerucutkan menjadi 25 nama terbaik.
Jalur yang tersedia meliputi bidang akademik, olahraga, seni, dan MTQ. Sementara untuk kategori konten kreator, Unesa mencatat belum ada pendaftar yang memenuhi kualifikasi standar kampus pada tahun ini.
Sarmila, salah satu pendaftar asal SMAN 1 Lumbang Pasuruan, memilih Program Studi Pendidikan Biologi sebagai langkah awal meraih cita-cita. Ia membawa bekal prestasi gemilang dari berbagai kompetisi karya ilmiah tingkat internasional.
“Di Unesa prodi pendidikannya sangat bagus dan saya nantinya juga ingin menjadi guru dalam bidang biologi,” ujar Sarmila.
Ia berkomitmen terus melakukan riset ilmu alam meski sudah duduk di bangku perkuliahan. Baginya, Golden Ticket menjadi peluang besar mengembangkan kemampuannya secara mendalam di bidang sains.
“Saya ingin mengembangkan prestasi saya dalam bidang karya ilmiah juga dalam ilmu alam dan biologi,” tambahnya.
Kepala SMAN 1 Lumbang, Budi Santoso menyebut prestasi ini menjadi kebanggaan bagi sekolah di lereng gunung. Upaya ini dilakukan untuk memutus rantai pernikahan dini melalui jalur pendidikan tinggi.
Budi memastikan anak didiknya memiliki kualitas riset yang diakui secara global. Beberapa medali emas dari ajang internasional menjadi bukti kapasitas akademik siswanya yang siap bersaing di Unesa.
“Tugas saya adalah membawa anak-anak Lumbang dari lereng gunung yang kawin dini menjadi prospek berprestasi internasional,” tegas Budi.
Ia merinci prestasi siswanya yang sudah menembus publikasi ilmiah bereputasi. Riset tersebut meliputi kemenangan di Malaysia hingga kompetisi di berbagai universitas ternama di Indonesia melalui penelitian mendalam.
“Medali emas ini semua riset-risetnya sudah ke arah conference Scopus tentunya,” pungkas Budi. [ipl/aje]






