Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak tenaga pendidik unggul. Sebanyak 3.016 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) resmi dikukuhkan dan diambil sumpahnya pada Kamis, (22/1/2025).
Ribuan guru yang mengikuti prosesi baik secara luring maupun daring ini merupakan lulusan program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama (Kemenag) Tahun 2025. Pengukuhan ini bukan sekadar seremonial, melainkan tonggak penting transformasi pendidikan nasional menuju era baru.
Dalam orasi ilmiahnya, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., menekankan bahwa kunci kemajuan pendidikan madrasah tidak terletak pada perubahan kurikulum semata. Lebih dari itu, pengakuan negara terhadap status, kompetensi, dan keberlanjutan profesi guru menjadi faktor penentu utama.
“Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegas Fesal.
Ia menambahkan, upaya melahirkan generasi Indonesia yang kompetitif dan berakhlak mulia akan sulit terwujud tanpa kehadiran guru yang sejahtera dan memiliki kepastian status profesional. Oleh karena itu, program sertifikasi dan PPG harus dimaknai sebagai langkah strategis negara, bukan sekadar formalitas administrasi.
“Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program PPG FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menyebut momen pengambilan sumpah ini sebagai fase krusial dalam karier seorang pendidik. Menurutnya, sertifikat pendidik adalah simbol pengakuan resmi atas dedikasi dan kompetensi guru dalam mengawal mutu pendidikan nasional.
Prof. Trisakti secara khusus menyoroti tantangan guru di era disrupsi teknologi. Ia mengingatkan bahwa guru masa kini dihadapkan pada generasi digital native, sehingga metode pembelajaran harus berevolusi menjadi lebih kontekstual tanpa kehilangan esensi keteladanan.
“Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri,” ujar Trisakti.
Ia menekankan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin vital.
“Pendidikan inklusif harus menjadi komitmen bersama karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” lanjutnya.
Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., memberikan pandangan strategis mengenai posisi pendidikan madrasah dalam sistem nasional. Ia menegaskan bahwa saat ini tidak boleh lagi ada pemisahan kasta antara pendidikan umum dan pendidikan madrasah.
“Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter,” tegas Prof. Nazaruddin.
Ia berpesan kepada ribuan guru yang baru dikukuhkan untuk terus merawat niat tulus dalam mendidik. Pengukuhan ini, menurutnya, adalah awal dari babak baru tanggung jawab untuk mencetak Generasi Emas 2045 yang menguasai kompetensi abad ke-21.
Dengan pengukuhan ini, 3.016 guru madrasah mata pelajaran umum kini resmi menyandang predikat profesional. Mereka diharapkan menjadi garda terdepan dalam menggerakkan transformasi pendidikan yang inklusif, adaptif terhadap teknologi, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai karakter bangsa. [dan/aje]






