Surabaya (beritajatim.com) – Program Studi Interior Design Petra Christian University (PCU) kembali menghadirkan Interior Design Exhibition Plus (IDE+) 2025, sebuah ajang tahunan yang memadukan pameran karya mahasiswa dengan berbagai workshop edukatif. Tahun ini, IDE+ mengusung tema “To Infinity and Beyond”, sebagai simbol eksplorasi dan semangat tanpa batas dalam dunia desain interior.
Salah satu kegiatan yang mencuri perhatian pengunjung adalah Umbrella Painting Workshop dengan tema “Nusantara”. Workshop ini bukan sekadar ajang seni, tetapi menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa untuk mengapresiasi serta melestarikan budaya lokal. Peserta diajak menuangkan interpretasi mereka terhadap kekayaan budaya Indonesia ke dalam lukisan payung menggunakan acrylic pen di atas permukaan kertas payung.
Dosen Desain Interior, Sriti Mayang Sari, menjelaskan bahwa tema Nusantara dipilih sebagai upaya memperkenalkan budaya lokal sejak dini.
“Payung sendiri merupakan salah satu simbol budaya kita. Di workshop ini, peserta dari anak-anak hingga dewasa bebas mengekspresikan budaya Nusantara versi mereka. Salah satu yang diangkat adalah Raja Ampat, sebagai bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan dan budaya yang kini terancam karena eksploitasi,” ujarnya saat ditemui di selasar Gedung Q lantai 3, Kampus Timur PCU, Rabu (18/6/2025).
Dalam workshop ini, ada 30 peserta yang terbagi dalam sepuluh kelompok kreatif. Di mana mereka semua menghasilkan karya yang nantinya akan dipamerkan di lingkungan kampus bersmaan dengan pameran IDE+ 2025. Inisiatif ini sekaligus menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menjaga warisan budaya serta lingkungan alam Indonesia.
“Kami sebagai akademisi berharap agar masyarakat turut menjaga budaya seklaigus lingkungan, termasuk di antaranya Raja Ampat. Nikel memang penting, tetapi kelestarian lingkungan dan laut juga tak kalah penting,” katanya.

IDE+ 2025 sendiri berlangsung selama tiga hari, 18–20 Juni 2025. Lebih dari 250 karya mahasiswa dari semester dua, empat, hingga enam dipamerkan. Mahasiswa semester dua, misalnya, mempresentasikan karya 2D dan desain 3D berbahan ramah lingkungan seperti bambu, triplek, dan kardus.
Mahasiswi jurusan interior angkatan 2024 yang juga peserta workshop, Britney Livana Hans, mengaku ada tantangan tersendiri saat menyelesaikan tugas akhir ini.
“Masih angkatan bawah, dan baru pertama kali belajar soal material. Jadi sambil ngerjain, kami juga sambil eksplor gitu. Untuk boots tenant kelompok saya ini menggunakan bahan utama triplek dengan waktu pengerjaan kurang lebih dua mingguan,” ujarnya.
Sementara untuk mahasiswa semester empat berfokus pada desain area kerja dan mewujudkan furniture skala penuh. Bahkan, salah satu karya berhasil direalisasikan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Adapun mahasiswa semester enam menyuguhkan studi kasus pada bangunan bersejarah serta menjalin kolaborasi dengan UCSI University Malaysia dan pelaku UMKM. Proyek-proyek ini membuktikan bahwa proses belajar mereka bukan sekadar praktik akademis, tetapi telah menjangkau dampak nyata di masyarakat.
“Melalui IDE+, kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara teori, tapi juga mampu berpikir kreatif, solutif, dan adaptif. Workshop seperti Umbrella Painting jadi media eksplorasi sekaligus cara menyuarakan nilai-nilai lokal dalam format yang menarik,” ujar Poppy Firtatwentyna Nilasari, Sekretaris Program Studi Interior Design PCU dan PIC acara.
Dengan pendekatan yang inovatif dan inklusif, IDE+ 2025 menjadi wadah inspiratif yang merefleksikan semangat kolaborasi, pelestarian budaya, dan eksplorasi kreatif mahasiswa dalam menjawab tantangan zaman. (fyi/ian)






