Malang (beritajatim.com) – Transformasi digital yang masif di sektor industri, mulai dari otomasi hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), menuntut dunia pendidikan vokasi untuk bergerak lebih cepat. Tidak hanya siswa, kesiapan para pendidik mulai dari dosen, guru SMK, instruktur Balai Latihan Kerja (BLK), hingga asesor kini menjadi sorotan utama.
Menjawab urgensi tersebut, sebuah kolaborasi nasional melalui Skema Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) resmi meluncurkan terobosan baru bernama Meta-Assess System. Inovasi ini digagas oleh empat institusi besar, yakni Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Padang (UNP), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Sistem ini hadir sebagai synthetic holospace pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk meningkatkan kelincahan teknologi (technological agility) para pendidik vokasi di era metaverse.
Ketua Tim Riset dari UM, Prof. Dr. Eddy Sutadji, M.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan Meta-Assess System berangkat dari kekhawatiran akan ketertinggalan metode pengajaran konvensional di tengah laju industri modern. Menurut ahli evaluasi pendidikan kejuruan ini, pendidik vokasi memegang peran paling strategis dalam mencetak tenaga kerja masa depan.
“Pendidik vokasi harus memiliki kelincahan dalam belajar teknologi baru. Bukan berarti semuanya harus menjadi ahli VR atau ahli AI, tetapi mereka perlu familier dengan lingkungan digital agar pembelajaran bisa mengikuti pola industri,” tegas Prof. Eddy pada beritajatim.com, Selasa (25/11/2025).
Ia menambahkan, platform ini menyasar ekosistem vokasi secara luas karena seluruh lembaga, baik SMK maupun Perguruan Tinggi Vokasi, saling terhubung dan tidak dapat bekerja secara parsial.
Berbeda dengan media pembelajaran biasa, Meta-Assess System menawarkan pengalaman metaverse yang komprehensif. Pendidik dapat memasuki berbagai ruang virtual seperti kantor imersif, laboratorium observatorium, hingga simulasi pabrik manufaktur digital.
Andika Bagus N.R.P., M.Pd., dosen muda tim host UM yang membidangi pengembangan aspek VR dan AR, menekankan bahwa sistem ini dirancang inklusif.
“Kami merancang sistem dengan antarmuka sederhana. Bahkan pendidik yang baru pertama kali memakai perangkat VR tetap bisa beradaptasi dengan cepat,” ujarnya.
Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai media simulasi, tetapi juga instrumen asesmen yang mengadopsi model evaluasi Brinkerhoff. Hal ini memungkinkan pemantauan kompetensi yang terukur dan objektif.
Keunggulan utama dari proyek ini adalah kolaborasi lintas institusi yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia. Prof. Dr. Iwa Kuntadi, M.Pd. dari UPI menilai Meta-Assess System sebagai lompatan besar untuk memperkecil jarak (gap) antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
“Holospace memungkinkan dosen, instruktur BLK, maupun guru produktif berlatih bersama tanpa batas geografis dan tanpa infrastruktur fisik yang besar,” jelas Prof. Iwa Kuntadi.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Fahmi Rizal, M.Pd. dari UNP menyebut riset ini sukses menyatukan data dan karakteristik pendidik dari Jawa, Sumatera, dan daerah lainnya, sehingga hasilnya relevan untuk diterapkan secara nasional. “Kolaborasi ini membuat penelitian lintas provinsi menjadi lebih kaya data dan representatif,” ungkapnya.
Dari sisi riset dan teknologi, peran BRIN sangat krusial dalam memastikan validitas sistem. Dr. Fenky Marsandi dari BRIN menegaskan bahwa fokus pengembangan tidak hanya pada visual, melainkan pada akurasi penilaian.
“Kami ingin pendidik mendapatkan pengalaman imersif, tetapi di waktu yang sama, lembaga pendidikan memperoleh data objektif mengenai perkembangan kompetensi mereka,” kata Dr. Fenky.
Data evaluasi yang dihasilkan mencakup pemahaman prosedur, pola komunikasi, hingga ketepatan pengambilan keputusan.
Uji coba yang telah dilakukan di berbagai titik, mulai dari SMK hingga Perguruan Tinggi, menunjukkan respons positif. Para pendidik merasa lebih percaya diri menghadapi konsep teknologi yang sebelumnya dianggap rumit.
Simulasi ini juga dinilai efektif untuk mengajarkan konsep berisiko tinggi di industri tanpa memerlukan mesin fisik yang mahal dan berbahaya.
“Peluncuran Meta-Assess System ini menjadi bukti bahwa institusi pendidikan Indonesia mampu beradaptasi dan menciptakan solusi konkret. Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi riset yang kuat, masa depan pendidikan vokasi Indonesia diharapkan mampu sejajar dengan standar industri global,” tutup Fenky Marsandi dari BRIN. [dan/beq]






